Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia dengan pembukaan Kongres Partai Buruh ke-9, sebuah pertemuan politik penting yang langka dan hanya digelar setiap lima tahun. Kali ini, kejutan datang dari pidato pembukaan Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un yang, berbeda dari ekspektasi banyak pihak, justru memprioritaskan upaya pemulihan ekonomi nasional dan peningkatan taraf hidup rakyatnya.
Dalam pidato yang dilaporkan media pemerintah KCNA, Kim Jong Un menegaskan bahwa partai menghadapi “tugas berat dan mendesak” untuk mendorong pembangunan ekonomi serta secepat mungkin memperbaiki semua aspek kehidupan sosial di negara tersebut. Uniknya, tidak ada satu pun pernyataan mengenai hubungan dengan musuh bebuyutan seperti Amerika Serikat atau Korea Selatan, yang biasanya menjadi topik utama dalam agenda politik Korut.
Fokus pada ekonomi ini bukan tanpa alasan. Meski sulit diukur secara akurat, para ahli luar mengindikasikan adanya pemulihan bertahap aktivitas ekonomi di Korea Utara, terutama setelah pandemi COVID-19. Peningkatan perdagangan dengan Tiongkok serta ekspor senjata untuk mendukung Rusia dalam perangnya melawan Ukraina disebut-sebut menjadi faktor pendorongnya. Laporan menyebutkan ribuan tentara Korea Utara turut bertempur di pihak Moskow, dan Pyongyang diyakini memasok amunisi dalam jumlah besar.
Di sisi lain, Kongres Partai Buruh ini juga diawasi ketat untuk beberapa sinyal penting lainnya. Intelijen Korea Selatan memantau kemungkinan Kim secara resmi menunjuk putri remajanya, Kim Ju Ae, sebagai penerus potensial. Langkah ini akan mengukuhkan posisinya sebagai pewaris takhta generasi keempat dari dinasti Kim yang memimpin Korea Utara. Selain itu, publik juga menanti apakah Kim Jong Un akan melunakkan retorikanya terhadap AS – setelah pada kongres sebelumnya menyebut AS sebagai “musuh terbesar” – terutama di tengah sinyal kesediaan mantan Presiden AS Donald Trump untuk bertemu kembali dengannya.