Perdebatan sengit tentang masa depan Partai Demokrat di Amerika Serikat kian memanas, terutama setelah gelaran pemilu 2024 yang dianggap memberatkan. Di tengah suasana politik yang masih didominasi sosok Donald Trump, pertanyaan besar muncul: apa sebenarnya yang diinginkan para pemilih Demokrat?
Dua kandidat muda, Nida Allam (32 tahun) dan Kat Abughazaleh (26 tahun), tampil sebagai jawaban yang berani. Mereka meluncurkan kampanye progresif yang tegas dan "tak kenal kompromi" untuk merebut kursi Kongres AS. Platform mereka cukup radikal, mencakup penghapusan badan imigrasi ICE, penataan ulang total kebijakan AS terhadap konflik Israel-Gaza, pemulihan hak-hak sipil yang dinilai mundur, serta kebijakan yang mengutamakan pekerja.
Tak hanya itu, kedua perempuan ini juga berkomitmen untuk memperkuat suara anti-perang di Kongres, terutama pasca-serangan AS-Israel ke Iran dan balasan Iran yang kemudian. Mereka ingin memastikan ada pengawasan ketat terhadap kekuasaan Presiden Trump.
Keberhasilan Allam dan Abughazaleh di pemilihan pendahuluan (primer) bukan hanya akan menjadi barometer bagi sentimen pemilih Demokrat di akar rumput, tetapi juga bisa mengirim pesan kuat kepada pimpinan partai yang sedang menyusun strategi untuk menghadapi pemilihan sela (midterm) yang krusial pada November mendatang. Pemilu sela ini akan menentukan partai mana—Demokrat atau Republik—yang mengendalikan Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, sekaligus membentuk sisa paruh kedua masa jabatan Trump.
Nida Allam akan bertarung lebih dulu pada 3 Maret di pemilihan pendahuluan distrik kongres keempat North Carolina. Wilayah ini dikenal sebagai pusat teknologi dan penelitian, termasuk kota Durham. Allam akan menghadapi petahana Valerie Foushee, yang pernah mengalahkannya pada tahun 2022. Saat itu, Foushee didukung oleh dana jutaan dolar dari Super PAC yang terafiliasi dengan Komite Urusan Publik Israel Amerika (AIPAC). Allam sendiri memiliki latar belakang unik: orang tuanya dari India dan Pakistan, ia juga menjadi perempuan Muslim pertama yang terpilih dalam jabatan publik di North Carolina pada tahun 2020 sebagai komisaris daerah.
"Kepemimpinan saya selalu berakar pada kebanggaan diri yang tak tergoyahkan," ungkap Allam kepada Al Jazeera. "Jika kita tidak berani melangkah di momen sulit ini dan mengambil risiko, saya tidak tahu dunia seperti apa yang akan saya tinggalkan untuk anak-anak saya." Ia menegaskan, "Masa di mana suara kami bisa dibungkam dan dipaksa tunduk sudah berlalu. Kaum pekerja sudah muak disuruh menunggu giliran."
Dua minggu setelah Allam, giliran Kat Abughazaleh, seorang jurnalis dan peneliti ekstrim kanan AS, yang akan berkompetisi pada 17 Maret di distrik yang beragam secara etnis dan politik di pinggiran utara Chicago. Ia termasuk salah satu dari tiga kandidat teratas di antara 15 Demokrat lainnya yang bersaing menggantikan anggota Kongres Jan Schakowsky yang pensiun.
Munculnya kandidat seperti Allam dan Abughazaleh mencerminkan keinginan kuat dari sayap progresif Partai Demokrat untuk mendorong perubahan substansial, bahkan jika itu berarti menantang kebijaksanaan konvensional partai. Ini menunjukkan pergeseran dinamika internal Demokrat, di mana isu-isu seperti kebijakan luar negeri, imigrasi, dan hak pekerja semakin mendapat sorotan tajam dari basis pemilih muda dan minoritas. Keberhasilan mereka bisa menjadi indikator sejauh mana visi progresif ini akan membentuk masa depan politik AS.