Gelombang protes keras mengguncang ajang Berlin International Film Festival (Berlinale) setelah sutradara kenamaan Tunisia, Kaouther Ben Hania, menolak penghargaan bergengsi "Most Valuable Film". Ben Hania secara tegas meninggalkan trofi di atas panggung sebagai bentuk penolakan atas apa yang ia sebut sebagai 'perang genosida' di Gaza dan 'kekebalan politik' yang diberikan kepada Israel oleh banyak negara. Ia menekankan bahwa perdamaian tanpa keadilan dan pertanggungjawaban hanyalah 'parfum' yang menutupi kekerasan, menyoroti pembunuhan kejam terhadap gadis cilik Palestina, Hind Rajab, serta keluarganya dan para tim medis yang berusaha menyelamatkannya.
Sikap berani Ben Hania ini menjadi puncak dari keresahan yang telah lama memuncak di kalangan sineas dunia. Sebelumnya, 81 profesional film terkemuka, termasuk aktor seperti Javier Bardem, Tilda Swinton, dan Brian Cox, serta sutradara Mike Leigh, melayangkan surat terbuka yang mengecam 'rasisme anti-Palestina' Berlinale. Mereka menuding festival film prestisius itu menerapkan standar ganda, diam seribu bahasa terhadap pelanggaran hukum internasional di Gaza, namun begitu vokal menyuarakan solidaritas untuk Ukraina dan Iran. Bahkan, komentar Presiden Juri Wim Wenders yang menyarankan sineas untuk 'menjauhi politik' juga memicu penarikan diri penulis India Arundhati Roy dari festival.
Surat terbuka tersebut juga mengungkap bahwa para pembuat film yang menyuarakan dukungan untuk Palestina sebelumnya kerap 'ditegur secara agresif' oleh pimpinan festival. Lebih lanjut, informasi mengerikan dari Al Jazeera yang mengungkap penggunaan senjata termobarik buatan Amerika Serikat oleh Israel, yang mampu 'menguapkan' ribuan warga Palestina tanpa sisa, menambah lapisan kegelapan pada konflik ini. Para seniman juga menyoroti peran Jerman, negara tuan rumah Berlinale sekaligus eksportir senjata besar ke Israel, yang dituding ikut membungkam suara-suara pro-Palestina di ranah seni.