Elon Musk kembali bikin geger dunia bisnis. Orang terkaya di dunia itu kini serius mempertimbangkan untuk menggabungkan dua perusahaan paling ikoniknya, Tesla dan SpaceX. Dalam laporan keuangan kuartal terbaru SpaceX, Musk mengaku sangat menyukai ide tersebut dan menyebut langkah ini sedang dalam kajian aktif.
Meski begitu, Musk menegaskan bahwa belum ada kesepakatan final. Komite khusus di kedua perusahaan telah dibentuk untuk mengevaluasi skema ini. Tantangannya tidak main-main: merger raksasa ini butuh restu mayoritas pemegang saham Tesla, yang menurut Musk adalah rintangan cukup tinggi.
Secara valuasi, gabungan Tesla (sekitar 1,5 triliun dolar AS) dan SpaceX (2 triliun dolar AS) berpotensi menjadi salah satu merger terbesar dalam sejarah. Saham SpaceX pun langsung melonjak 8% di perdagangan setelah jam kerja, sementara saham Tesla ikut naik 2%.
Analisis singkat: Langkah ini bukan sekadar soal memperbesar kekuasaan, tapi soal efisiensi ekosistem. SpaceX kini makin moncer lewat bisnis komputasi awan dan Starlink, meski secara keseluruhan masih merugi 1,1 miliar dolar AS tahun ini. Dengan menyatukan chip, AI, dan software di bawah satu bendera, Musk ingin menciptakan mesin inovasi yang lebih solid. Bagi masyarakat, ini bisa berarti percepatan teknologi masa depan, tapi juga memunculkan kekhawatiran soal monopoli dan konsentrasi kekuasaan di tangan satu orang.