Teheran, 18 Juli 2025 – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Washington melancarkan gelombang serangan udara baru pada Rabu malam. Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah kota strategis Iran, termasuk Bandar Abbas, Chabahar, dan Ahvaz. Langkah ini langsung memicu respons keras dari Teheran yang menyatakan 'kebebasan bertindak penuh' bagi militernya untuk membalas agresi musuh.
Serangan terbaru ini menandai eskalasi signifikan setelah sebelumnya kedua negara sepakat pada gencatan senjata sementara pada 17 Juni lalu. Kini, kesepakatan damai yang rapuh itu resmi dinyatakan batal. Negosiator utama Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya sedang berada dalam 'perang eksistensial' dengan Amerika dan tidak ada alasan lagi untuk mematuhi perjanjian damai.
Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa pihaknya tidak lagi terikat pada nota kesepahaman karena AS dianggap ingkar janji. 'Komitmen kami hanya berlaku selama pihak lain memenuhi janjinya. Kini, kami hanya fokus pada pertahanan negara,' ujar Baghaei. Ia juga menegaskan tidak ada rencana untuk berdialog lebih lanjut dengan Washington.
Di sisi lain, militer AS mengklaim serangan mereka menyasar target militer di dekat Selat Hormuz serta Pulau Greater Tunb. Namun, Iran melaporkan bahwa sebuah gudang penyimpanan gandum di provinsi Khuzestan ikut terkena serangan—sesuatu yang langsung dibantah keras oleh Pentagon. Akibat agresi ini, tujuh personel militer Iran dari Brigade 388 tewas di Bampour, dan puluhan lainnya luka-luka.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku telah melancarkan serangan ke Armada Kelima AS di Bahrain dan pusat logistik militer AS di Mina Abdullah, Kuwait. Otoritas Kuwait mengonfirmasi berhasil menembak jatuh setidaknya empat rudal jelajah dan 21 drone Iran. Yordania juga melaporkan hal serupa.
Analisis Dampak: Eskalasi ini membuat kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang perang terbuka. Blokade laut AS yang diperketat di pelabuhan Iran dipastikan akan mengganggu rantai pasok minyak global, berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia. Sumber dari Al Jazeera melaporkan bahwa sanksi baru kembali diberlakukan, dan situasi kini disebut sebagai 'perang intensitas rendah'. Satu-satunya celah perdamaian, menurut pengamat, hanya mungkin terjadi jika AS benar-benar kembali mematuhi isi perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya.