Gelombang demonstrasi besar-besaran kembali mengguncang sejumlah negara Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Ratusan ribu orang turun ke jalan untuk memprotes kenaikan biaya hidup, upah yang rendah, harga rumah yang tak terjangkau, hingga minimnya anggaran pendidikan. Aksi di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal sempat memanas dan berujung bentrokan, penjarahan, serta pembakaran, meski banyak demonstrasi lain berlangsung damai.
Prancis menjadi pusat gejolak. Kementerian Dalam Negeri mencatat lebih dari 550.000 orang berdemonstrasi secara nasional pada Sabtu lalu, di tengah aksi mahasiswa yang sudah berlangsung berminggu-minggu. Di balik kemarahan publik, ada masalah struktural yang lebih dalam: beban utang pemerintah yang makin mahal.
Bertahun-tahun berutang membuat banyak negara Eropa terjerat kewajiban fiskal besar. Biaya pinjaman Prancis kini menyentuh level tertinggi sejak 2002. Semakin besar uang yang habis untuk membayar bunga, semakin kecil anggaran yang tersisa untuk sekolah, rumah sakit, dan pensiun—justru hal-hal yang dituntut para demonstran.
Prancis bahkan kini harus membayar bunga utang 10 tahun sekitar 5 persen, lebih tinggi dibanding Italia (yang jadi salah satu negara terparah saat krisis utang zona euro 2010-2012) dan Yunani. Hanya Inggris, yang berada di luar zona euro, yang menanggung biaya pinjaman lebih tinggi. Sebagai perbandingan, Jerman hanya membayar sekitar 3,41 persen. Melebarnya selisih ini menunjukkan investor menuntut imbal hasil lebih besar untuk meminjamkan uang ke Prancis.
Mekanismenya mirip utang rumah tangga: pemerintah menjual obligasi, membayar bunga, lalu berjanji melunasi pokoknya di tanggal jatuh tempo. Ketika harga obligasi turun, yield naik, dan biaya pinjaman ikut membengkak. Dampaknya langsung terasa—anggaran negara tergerus untuk bunga, bukan untuk layanan publik.
Dalam skala global, Amerika Serikat masih memegang utang pemerintah terbesar, yakni 41,4 triliun dolar AS atau 127 persen dari PDB-nya, disusul China dengan 22,5 triliun dolar AS. Posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia membuat utang AS tetap diminati pasar, meski kapasitas pinjamannya tak tak terbatas.
Analisis dampak: Tekanan fiskal ini berpotensi memperpanjang gelombang protes di Eropa, karena pemerintah menghadapi dilema antara memangkas belanja atau menaikkan pajak—dua opsi yang sama-sama tidak populer. Bagi masyarakat, kondisi ini bisa berarti layanan publik yang makin terbatas dan pajak yang makin berat. Sementara bagi pasar global, melebarnya selisih yield antarnegara Eropa menjadi sinyal waspada terhadap stabilitas zona euro, mengingat sejarah krisis 2010-2012 yang sempat memaksa Irlandia dan Portugal menerima bailout.