Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa Washington dan Teheran telah mencapai sebuah 'kesepakatan besar' (great settlement). Dalam pernyataannya, Trump menyebut kedua pihak saat ini tengah memfinalisasi dokumen untuk sebuah perjanjian yang menurutnya akan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Klaim ini muncul di tengah ketegangan tinggi yang sudah berlangsung lama antara AS dan Iran. Jika benar terjadi, ini akan menjadi terobosan diplomatik yang signifikan setelah bertahun-tahun hubungan kedua negara berada di ujung tanduk, terutama pasca penarikan AS dari kesepakatan nuklir tahun 2015 (JCPOA) pada era pertama Trump. Namun, perlu dicatat bahwa pernyataan sepihak dari presiden AS ini belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pemerintah Iran.
Analisis Dampak: Jika kesepakatan ini benar-benar terwujud, dampaknya akan langsung terasa di pasar energi global. Iran, yang memiliki salah satu cadangan minyak dan gas terbesar dunia, bisa kembali mengekspor minyak secara leluasa. Hal ini berpotensi menurunkan harga minyak dunia, yang tentu menjadi kabar baik bagi negara pengimpor seperti Indonesia. Namun, jika ini hanya gertakan atau klaim sepihak, ketidakpastian geopolitik justru akan meningkat dan bisa memicu volatilitas harga komoditas. Sumber dari Reuters sebelumnya melaporkan bahwa negosiasi tidak langsung melalui Oman memang berlangsung intensif, namun belum ada indikasi 'kesepakatan besar' yang final. Publik dan pasar perlu menunggu konfirmasi resmi dari Teheran untuk memastikan validitas klaim ini.