Jakarta, CNN Indonesia — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengambil sikap berbeda dari Presiden Donald Trump menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober mendatang. Vance secara tegas menolak memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, memilih untuk tidak ikut campur dalam politik Israel.
Dalam wawancara dengan jurnalis Mark Halperin, Vance menyatakan bahwa fokusnya saat ini adalah pemilu paruh waktu (midterms) di Amerika Serikat. "Saya tidak anti-mendukung dia. Saya juga tidak pro-mendukung dia. Saya tidak akan terlibat dalam pemilu Israel," ujar Vance, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Sikap Vance ini kontras dengan Trump yang sehari sebelumnya secara eksplisit mendukung Netanyahu. Selama dua periode kepemimpinannya, Trump memang dikenal memiliki hubungan erat dengan Netanyahu dan pemerintah sayap kanan Israel, termasuk memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem Barat dan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran 2015.
Namun, posisi Vance mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan di dalam Partai Republik terhadap dukungan tanpa syarat Washington kepada Israel. Sentimen ini diperkuat oleh dampak perang AS-Israel terhadap Iran yang meningkatkan biaya hidup konsumen AS. Meski begitu, Vance menegaskan bahwa dukungan AS kepada Israel harus tetap berlanjut.
Pada Juni lalu, Vance sempat mengkritik Israel dengan pernyataan tajam: "Anda tidak bisa hanya membunuh untuk menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional yang Anda miliki." Ia juga memperingatkan kabinet Netanyahu agar tidak menjauhkan diri dari Trump, yang disebutnya sebagai "satu-satunya sekutu kuat" yang tersisa bagi Israel.
Dukungan Trump terhadap Netanyahu belum tentu mendongkrak elektabilitas partai Likud. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan kekhawatiran publik Israel terhadap Trump yang dianggap mencoba menahan operasi Israel di Lebanon dan menolak eskalasi lebih lanjut dengan Iran. Partai Yashar yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot saat ini memimpin atas Likud menjelang pemungutan suara.