Islamabad kini menjadi sorotan dunia sebagai pusat upaya mediasi krusial untuk mendinginkan hubungan panas antara Amerika Serikat dan Iran. Pada Minggu dan Senin ini, para diplomat senior dari Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Turki berkumpul di ibu kota Pakistan itu. Mereka bertekad mencari jalan keluar diplomatik dari eskalasi konflik yang membayangi, yang kerap disebut sebagai 'perang AS-Israel terhadap Iran'.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, bertindak sebagai pemimpin dialog penting ini. Bahkan sebelum pertemuan dimulai, Dar pada Sabtu malam mengumumkan kabar baik: Iran telah mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan, atau setara dua kapal per hari, melintasi Selat Hormuz. Ini adalah jalur laut vital yang kerap menjadi titik panas geopolitik dunia, dan izin ini bisa menjadi sinyal positif dari Teheran.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga tak tinggal diam. Ia bahkan menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama lebih dari satu jam pada Sabtu, mempersiapkan landasan bagi pembicaraan di Islamabad. Jurnalis Al Jazeera, Kamal Kyder, melaporkan langsung dari Islamabad bahwa Pakistan memang memainkan peran sentral sebagai 'penghubung kunci' antara Washington dan Teheran, bolak-balik menyampaikan pesan diplomatik.
Upaya mediasi ini sangat vital, mengingat situasi di lapangan yang terus memanas. Pada Jumat, ribuan pasukan tambahan AS telah tiba di Timur Tengah dengan kapal serbu amfibi. Sehari kemudian, Sabtu, pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan pertama mereka ke Israel sejak konflik ini pecah. Ini menunjukkan risiko perluasan perang sangat nyata dan mendesak.
Di tengah ketegangan ini, Presiden Iran Pezeshkian menyambut baik upaya Islamabad, bahkan secara khusus berterima kasih kepada Pakistan atas mediasi untuk menghentikan 'agresi terhadap Republik Islam'. Keberhasilan diplomasi di Islamabad akan sangat dinanti. Apakah ini jalan keluar dari potensi perang besar yang bisa mengguncang stabilitas global, ataukah hanya upaya mengulur waktu? Dunia menanti.