IRLANDIA VS TRUMP: DIPLOMASI CANGGUNG, KETEGANGAN DI OVAL OFFICE - Berita Dunia
← Kembali

IRLANDIA VS TRUMP: DIPLOMASI CANGGUNG, KETEGANGAN DI OVAL OFFICE

Foto Berita

Suasana canggung menyelimuti pertemuan Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Oval Office, Washington DC. Kunjungan tahunan dalam rangka Hari St. Patrick ini seharusnya menjadi ajang diplomatik rutin, namun justru diwarnai gesekan dan perbedaan pandangan yang kentara.

Martin, yang negaranya dikenal lantang menyuarakan isu-isu global seperti genosida di Gaza dan posisi tegas terhadap Iran, mendapat kritik di dalam negeri karena dinilai terlalu pasif menghadapi Trump. Ini terlihat jelas saat sang Presiden AS meluapkan berbagai keluhannya, mulai dari pengunduran diri kepala kontraterorisme AS, Joe Kent, hingga kemarahannya pada sekutu NATO yang enggan terlibat aksi militer di Selat Hormuz.

Alih-alih menanggapi langsung, Martin memilih jalur diplomasi halus. Ketika Trump menuduh NATO melakukan "kesalahan bodoh", Martin, yang negaranya bukan anggota NATO, mencoba menengahi. "Saya yakin para pemimpin Eropa dan administrasi AS akan terlibat, dan semoga kita bisa menemukan titik temu," ujarnya. Namun, Trump tak bergeming, malah melanjutkan keluhannya soal Iran, menyebut pemimpinnya "orang terburuk setelah Hitler", sekaligus menyoroti peran Eropa.

Momen paling mencolok terjadi saat Trump menanggapi komentar Presiden Irlandia, Catherine Connolly, yang menyatakan perang AS-Israel terhadap Iran ilegal. Rupanya, Trump tidak menyadari bahwa Presiden Irlandia adalah seorang wanita. "Lihat, dia beruntung saya ada," kata Trump, tanpa koreksi dari Martin. Tak hanya itu, ketika Trump mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Martin justru membela. Ia bahkan menyentil balik Trump dengan sindiran halus terkait peran kontroversial Winston Churchill dalam kemerdekaan Irlandia, setelah Trump membandingkan Starmer dengan pemimpin perang Inggris itu.

Pertemuan ini jelas menggambarkan tantangan diplomasi, terutama saat berhadapan dengan pemimpin berkarakter kuat seperti Trump. Di mata publik Irlandia, Martin dinilai melewatkan kesempatan emas untuk secara tegas menyuarakan keprihatinan Irlandia atas tindakan AS dan Israel di Iran. Insiden ini juga menyoroti bagaimana perbedaan pandangan mendalam antarnegara, bahkan di antara sekutu sekalipun, dapat menciptakan ketegangan yang tersembunyi di balik senyum diplomatik.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook