Jakarta – Sebuah video yang memperlihatkan seorang wanita hamil berat dibanting ke tanah oleh polisi Belanda di pusat penampungan pencari suaka di Zeist, Belanda, mendadak viral. Korban adalah Malak Mahmoud, seorang perempuan Palestina yang tengah hamil besar, sementara suaminya yang berasal dari Gaza sedang ditahan di lokasi yang sama.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Mahmoud mengaku trauma berat. Ia tidak menyangka akan diperlakukan brutal hanya karena berada di lokasi penahanan suaminya. Video tersebut memicu kemarahan publik dan organisasi hak asasi manusia yang mengecam tindakan polisi sebagai bentuk kekerasan berlebihan terhadap ibu hamil.
Pihak kepolisian Zeist melalui pernyataan resmi mengaku tengah meninjau ulang penggunaan kekerasan dalam insiden ini dan telah membuka penyelidikan internal. Namun, hingga berita ini diturunkan, mereka belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan wawancara dari Al Jazeera.
Analisis: Insiden ini bukan kasus terisolasi. Media internasional seperti BBC dan The Guardian sebelumnya banyak memberitakan peningkatan ketegangan di pusat-pusat penampungan pengungsi di Eropa. Dampaknya, kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum di Belanda khususnya, dan Uni Eropa umumnya, kembali diuji. Bagi masyarakat Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa isu rasisme dan kekerasan aparat masih menjadi problem serius di negara maju sekalipun.