Empat negaraâMesir, Eritrea, Somalia, dan Sudanâbaru saja menggelar pertemuan tingkat tinggi di New Alamein City, Mesir. Hasilnya, mereka sepakat mendesak solusi damai untuk konflik yang membara di kawasan, terutama perang saudara Sudan dan ketegangan di Ethiopia.
Dalam deklarasi bersama yang dirilis Minggu, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Presiden Eritrea Isaias Afwerki, Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud, dan Panglima Angkatan Bersenjata Sudan Abdel Fattah al-Burhan menegaskan bahwa tantangan lintas batas hanya bisa diselesaikan lewat dialog, bukan konfrontasi.
Deklarasi ini secara tersirat menolak sejumlah kebijakan Ethiopia dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menegaskan dukungan terhadap pemerintah militer Sudan dan mendorong proses politik yang dipimpin pihak Sudan sendiri. Selain itu, mereka menekankan bahwa kontrol Laut Merah harus tetap berada di tangan negara-negara pesisirâsebuah sinyal jelas menolak ambisi Ethiopia yang ingin punya akses laut dan kehadiran angkatan laut.
Mesir dan Sudan juga kembali menyoroti proyek Bendungan Renaissance Ethiopia di Sungai Nil. Mereka memperingatkan tindakan sepihak yang bisa merugikan negara hilir.
Ketegangan semakin panas karena Ethiopia menuduh Mesir, Eritrea, dan Sudan mendukung aliansi bersenjata yang melawan pemerintahnya. Tuduhan ini dibantah keras oleh ketiga negara tersebut.
Sementara itu, di Ethiopia sendiri, pertempuran antara pasukan federal dan aliansi tujuh kelompok bersenjataâtermasuk TPLFâmasih berkecamuk. Pasukan pemerintah dilaporkan berhasil merebut kembali Kota Mekelle setelah TPLF menyatakan mundur sementara. Pemerintah Ethiopia disebut sedang menyiapkan administrasi transisi baru dan berencana menggelar pemilihan daerah dalam beberapa bulan ke depan.
Eritrea melalui Menteri Informasinya, Yemane Gebremeskel, menuduh Addis Ababa sedang mencari alasan untuk menyerang Eritrea. Situasi ini membuat kawasan Tanduk Afrika semakin rawan konflik terbuka.