Seorang warga sipil penyandang disabilitas tewas ditembak pasukan Israel dalam sebuah operasi penggerebekan di Desa Jamla, wilayah pedesaan Deraa bagian barat, Suriah. Insiden ini dilaporkan oleh kantor berita negara Suriah, SANA, pada Kamis dini hari.
Menurut laporan SANA, pasukan Israel mengerahkan penembak jitu (sniper) di atap-atap bangunan sebelum insiden terjadi. Jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit Nasional Deraa. Pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Eskalasi ini bukan yang pertama. Sejak tumbangnya Bashar al-Assad pada Desember 2024, militer Israel intensif melancarkan ratusan serangan udara dan operasi darat ke wilayah Suriah. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengecam keras agresi tersebut, menilai tindakan itu merusak perdamaian dan keamanan.
Tak hanya di Deraa, operasi serupa juga terjadi di Provinsi Quneitra. Pasukan Israel dilaporkan menggerebek rumah warga, menahan satu orang di Desa Turnejeh, serta merusak perkebunan zaitun di Desa Saida. Kementerian Luar Negeri Suriah pun mengecam meningkatnya gelombang incursion (pelanggaran batas) Israel di dua wilayah tersebut.
Israel bersikeras akan mempertahankan pasukannya di apa yang mereka sebut sebagai 'zona keamanan' di Suriah selatan. Negosiasi kesepakatan keamanan antara kedua negara dilaporkan mandek sejak meletusnya perang AS-Israel melawan Iran pada Februari lalu.
Analisis Dampak: Insiden ini memperlihatkan bahwa warga sipil, terutama kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, terus menjadi korban dalam konflik geopolitik yang tak berkesudahan. Bagi masyarakat Suriah, operasi militer yang terus berlanjut di wilayah selatan menciptakan ketidakpastian dan trauma berkepanjangan. Sementara itu, kebuntuan diplomasi membuat jalan menuju stabilitas kawasan semakin sulit, dan risiko eskalasi lebih lanjut masih terbuka lebar.