TERJERAT JANJI MANIS, BELASAN WARGA AFSEL JADI TENTARA BAYARAN - Berita Dunia
← Kembali

TERJERAT JANJI MANIS, BELASAN WARGA AFSEL JADI TENTARA BAYARAN

Foto Berita

Kisah pilu belasan pemuda Afrika Selatan yang tergiur iming-iming pekerjaan bergaji fantastis di luar negeri berakhir tragis. Bukannya mendapatkan kehidupan lebih baik, mereka justru terdampar di garis depan perang Ukraina sebagai tentara bayaran Rusia.

Pemerintah Afrika Selatan (Afsel) mengumumkan bahwa 11 warganya yang sebelumnya direkrut untuk berperang di Ukraina kini dalam perjalanan pulang. Empat di antaranya sudah tiba minggu lalu, sementara dua lainnya masih dalam proses pemulangan dari Rusia. Kepulangan mereka tak lepas dari upaya diplomatik Presiden Afsel Cyril Ramaphosa yang berdialog langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang merespons positif permohonan tersebut.

Para pemuda, yang mayoritas berusia 20-39 tahun, mengaku "terjebak" setelah ditipu dengan janji kontrak kerja menggiurkan. Alih-alih pekerjaan yang layak, mereka justru dikirim ke wilayah Donbas, Ukraina timur, yang menjadi episentrum pertempuran sengit. Kasus ini bukan yang pertama; laporan serupa datang dari Kenya dan Zimbabwe, di mana ribuan warga Afrika juga direkrut secara ilegal untuk berperang di bawah bendera Rusia. Kementerian Luar Negeri Ukraina bahkan mencatat lebih dari 1.400 warga dari 36 negara Afrika teridentifikasi di jajaran militer Rusia.

Kini, pemerintah Afsel sedang menginvestigasi secara mendalam modus perekrutan ilegal ini. Setidaknya tiga orang telah diperiksa, termasuk Duduzile Zuma-Sambudla, putri mantan Presiden Jacob Zuma, yang telah membantah tuduhan dan mundur dari parlemen. Perlu diketahui, undang-undang Afsel melarang warganya bergabung dengan militer negara asing tanpa izin resmi pemerintah. Para pemuda yang baru kembali juga menjalani pemeriksaan intensif oleh kepolisian Afsel terkait bagaimana mereka bisa sampai di Rusia.

Fenomena ini menunjukkan celah eksploitasi di tengah konflik global, di mana pihak-pihak tertentu memanfaatkan kerentanan ekonomi pemuda untuk dijadikan prajurit bayaran. Selain melanggar hukum, para korban juga menghadapi risiko kematian dan stigma di negara asalnya. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap tawaran kerja yang tidak masuk akal di luar negeri, terutama di zona konflik.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook