Pemerintah junta militer Myanmar mengklaim telah menyerahkan paket kiriman dari Raja Inggris Charles III kepada Aung San Suu Kyi. Paket itu berisi dua buku tentang tanah dan surat diplomatik bersegel dari istana. Momen ini jadi yang pertama kalinya publik melihat foto Suu Kyi setelah dua bulan tak muncul.
Menurut juru bicara kepresidenan Myanmar, pejabat kementerian dalam negeri menemui Suu Kyi pada Senin lalu. Dua foto yang dirilis memperlihatkan Suu Kyi duduk berhadapan dengan dua pria yang membelakangi kamera. Ruangan dalam foto itu mirip dengan lokasi saat ia menerima perwakilan Palang Merah Internasional pada Agustus silam.
Yang menarik, otoritas Myanmar mulai menyebut Suu Kyi sebagai "tahanan perempuan khusus". Ini pertama kalinya istilah itu dipakai untuk aktivis demokrasi dan HAM yang reputasinya sempat tercoreng karena dianggap menutup mata terhadap dugaan genosida etnis Rohingya.
Suu Kyi digulingkan lewat kudeta militer pada 2021. Konflik bersenjata yang dipicu kudeta itu telah menewaskan lebih dari 100.000 orang menurut pemantau konflik ACLED. Pemimpin kudeta, Min Aung Hlaing, dilantik sebagai presiden sipil pada April lalu lewat pemilu yang tidak diikuti partai Suu Kyi. Tak lama setelah itu, Suu Kyi dipindahkan ke tahanan rumah.
Hingga kini, Suu Kyi masih ditahan atas berbagai tuduhan yang dianggap kelompok HAM sebagai rekayasa untuk mengembalikan kekuasaan ke militer. Min Aung Hlaing sendiri mengklaim telah "sangat lunak" terhadap Suu Kyi dalam wawancara dengan majalah Time bulan lalu.
Inggris dan komunitas internasional terus mendesak pembebasan Suu Kyi serta akses terhadapnya. Tapi pemerintah Myanmar menolak permintaan itu. Pengiriman surat dari Raja Charles—yang dikenal sangat peduli pada lingkungan dan pertanian—bisa dibaca sebagai upaya halus menjembatani komunikasi, meski belum jelas apakah ini akan berdampak pada kebijakan junta.