Empat nyawa melayang dalam serangan udara yang diklaim dilancarkan pasukan Israel di Lebanon, dekat perbatasan dengan Suriah, Senin dini hari. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi insiden mematikan ini, yang terjadi di area Majdal Anjar. Salah satu korban tewas diidentifikasi sebagai warga negara Suriah bernama Khaled Mohammad al-Ahmad, seperti dilaporkan Kantor Berita Nasional Lebanon.
Militer Israel lewat unggahan di platform X mengakui serangan tersebut, dengan dalih menargetkan anggota kelompok militan Palestina Islamic Jihad (PIJ) di Lebanon. Namun, Israel tidak menyertakan bukti pendukung atas klaimnya itu, dan belum ada komentar resmi dari pihak PIJ terkait tuduhan ini.
PIJ sendiri dikenal sebagai kelompok bersenjata di wilayah pendudukan Palestina, yang turut berjuang bersama Hamas di Gaza untuk mewujudkan negara Palestina merdeka. Kelompok ini juga memiliki hubungan erat dengan Hezbollah, milisi bersenjata Lebanon yang aktif melancarkan serangan ke Israel utara sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina, terutama setelah agresi Israel ke Gaza pada 2023.
Insiden ini terjadi ironisnya di tengah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Hezbollah. Meskipun ada perjanjian untuk menghentikan permusuhan, PBB mencatat pola yang mengkhawatirkan: militer Israel terus melancarkan lebih dari 10.000 serangan udara dan darat di Lebanon dalam setahun terakhir sejak gencatan senjata disepakati, jelas melanggar kesepakatan tersebut. Kantor Hak Asasi Manusia PBB pada November tahun lalu bahkan memverifikasi sedikitnya 108 korban sipil akibat serangan Israel pasca-gencatan senjata, termasuk 21 wanita dan 16 anak-anak. Tak hanya itu, setidaknya 11 warga sipil Lebanon juga dilaporkan diculik oleh pasukan Israel selama periode tersebut. Serangan terbaru ini tidak hanya menambah daftar panjang pelanggaran, tetapi juga memperkeruh upaya stabilitas di wilayah yang sudah sangat rentan konflik.