Situasi di Suria kian memanas setelah Kementerian Luar Negeri Suria secara tegas membantah adanya kesepakatan perpanjangan gencatan senjata dengan Pasukan Demokratik Suria (SDF) yang dipimpin Kurdi. Keputusan ini datang di tengah tekanan yang makin besar agar SDF mengintegrasikan pasukannya ke dalam Tentara Suria, dengan tenggat waktu gencatan senjata yang akan segera berakhir hari ini.
Sebelumnya, pada hari Selasa, Tentara Suria dan SDF telah menyepakati gencatan senjata empat hari. Kesepakatan ini terjadi setelah para pejuang Kurdi menyerahkan sejumlah wilayah luas kepada pasukan pemerintah. Bahkan, pasukan pemerintah juga mengirim bala bantuan ke sebuah benteng Kurdi di timur laut. Sejak dua minggu terakhir, pasukan Presiden Ahmed al-Sharaa berhasil merebut kembali wilayah utara dan timur dari SDF secara cepat, mengukuhkan kekuasaan al-Sharaa.
Perkembangan penting lainnya adalah penguasaan kembali aset-aset strategis oleh pemerintah Suria. Mereka kini mengontrol ladang minyak utama, bendungan pembangkit listrik tenaga air, serta beberapa fasilitas yang menahan pejuang dan warga sipil afiliasi ISIS (ISIL). Penjara al-Aqtan di Provinsi Raqqa, yang menampung ribuan pejuang ISIS, kini sepenuhnya di bawah kendali pemerintah. Militer Suria juga dilaporkan mengambil alih kamp al-Hol, yang menampung puluhan ribu terduga anggota ISIS, tanpa adanya laporan pelarian.
Meskipun ada harapan untuk resolusi damai, kedua belah pihak justru meningkatkan persiapan militer mereka. Pejabat militer Suria menyatakan kesiapan tempur, dengan laporan dari Reuters yang melihat kedatangan kendaraan militer dan bus pengangkut pejuang di dekat Hasakah, di mana pasukan SDF juga telah memperkuat posisi mereka. Di sisi lain, militer Amerika Serikat dilaporkan memindahkan ratusan pejuang ISIS yang ditahan dari penjara-penjara Suria ke Irak.
Kini, masa depan Suria terasa sangat rapuh. Kelanjutan gencatan senjata menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas, meski hanya untuk sementara waktu. Tidak adanya perpanjangan gencatan senjata ini menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik berskala besar antara pasukan pemerintah dan SDF, yang dapat memperparah krisis kemanusiaan dan keamanan di wilayah tersebut.