LOS ANGELES, AMERIKA SERIKAT — Timnas Iran akhirnya akan memulai petualangan mereka di Piala Dunia 2026, Senin (WIB), setelah melalui masa persiapan yang penuh ketidakpastian dan kekacauan. Laga perdana Grup G melawan Selandia Baru di Los Angeles Stadium, California, diprediksi berlangsung dramatis, tidak hanya karena faktor sepak bola, tetapi juga situasi geopolitik yang memanas.
Iran datang ke turnamen ini di tengah konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai sejak akhir Februari lalu. Situasi ini membuat partisipasi mereka sempat diragukan hingga detik terakhir. Tim berjuluk Team Melli bahkan terpaksa memindahkan kamp pelatihan dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko, dan harus terbang bolak-balik ke AS setiap kali bertanding.
Suasana politik juga ikut mewarnai laga ini. Sebanyak 11 anggota federasi sepak bola Iran ditolak visa oleh pihak AS. Tim pelatih dan pemain pun hanya diizinkan masuk ke AS pada hari pertandingan dan harus pergi dalam waktu 24 jam. Saat upacara pembukaan, bendera Iran disambut cemoohan dari sebagian penonton di stadion.
Di sisi lain, Selandia Baru yang tampil perdana di Piala Dunia sejak 2010, berambisi mencuri poin. Namun, tekanan psikologis justru menghantui Iran. Pertandingan ini menjadi sejarah kelam karena pertama kalinya dalam 96 tahun Piala Dunia, sebuah tim bertanding di negara yang sedang berperang dengan mereka.
Analisis Dampak: Pertandingan ini bukan sekadar laga sepak bola. Ini menjadi simbol diplomasi publik yang rumit. Bagi diaspora Iran di California, laga ini memicu perasaan campur aduk antara bangga dan prihatin. Sementara bagi FIFA, situasi ini menjadi ujian berat bagaimana organisasi sepak bola global harus bersikap di tengah konflik politik yang memanas.