Gelombang protes besar melanda berbagai kota di Suriah setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk kesekian kalinya. Warga yang geram membakar ban, memblokir jalan, dan meneriakkan slogan-slogan menentang kebijakan ekonomi yang dinilai semakin mencekik.
Ini menjadi aksi demonstrasi terbesar sejak Presiden Ahmed al-Sharaa mengambil alih kekuasaan dua tahun lalu. Banyak warga mengaku kondisi finansial mereka justru memburuk drastis dibandingkan era sebelumnya. Keluhan utama bukan sekadar harga BBM, melainkan lonjakan harga kebutuhan pokok seperti roti yang naik hingga sepuluh kali lipat, serta tarif listrik yang melambung ratusan persen.
Pemerintah berdalih kenaikan harga ini adalah bagian dari langkah penghematan anggaran dan penyesuaian subsidi agar sejalan dengan standar internasional. Namun, kebijakan tersebut dianggap tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Tekanan publik yang masif akhirnya memaksa pemerintah mencabut kenaikan harga BBM tersebut beberapa hari kemudian.
Analisis Dampak: Situasi ini menjadi ujian berat bagi legitimasi pemerintahan baru Suriah. Meski janji kebebasan dan pemulihan ekonomi sempat membangkitkan harapan, realita pahit inflasi membuat kepercayaan publik terkikis. Jika pemerintah tidak segera menemukan solusi konkret untuk stabilisasi harga dan penciptaan lapangan kerja, potensi kerusuhan sosial yang lebih besar akan terus menghantui stabilitas transisi politik di negara tersebut.