AS ANCAM TARIF MINYAK, KUBA TERIAK INI KEJAHATAN! - Berita Dunia
← Kembali

AS ANCAM TARIF MINYAK, KUBA TERIAK INI KEJAHATAN!

Foto Berita

Washington kembali melancarkan tekanan baru terhadap Kuba. Presiden AS Donald Trump baru saja mengancam akan memberlakukan tarif tambahan bagi negara mana pun yang berani menjual minyak ke Havana. Tak tinggal diam, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyebut tindakan ini sebagai upaya "fasis, kriminal, dan genosida" untuk mencekik ekonomi negaranya yang sudah berjuang keras.

Ancaman tarif yang ditandatangani Trump pada Kamis (waktu setempat) ini bertujuan menekan keras Kuba. Washington menuding pemerintah komunis Kuba merupakan "ancaman tidak biasa dan luar biasa" bagi keamanan nasional AS. Menanggapi tudingan yang disebut "palsu dan tak berdasar" itu, Diaz-Canel langsung meradang. Ia mengecam langkah AS yang berencana mencekik ekonomi Kuba dengan membebankan tarif pada negara-negara yang berdaulat dalam berdagang minyak.

"Langkah baru ini mengungkap sifat fasis, kriminal, dan genosida dari sebuah klik yang telah membajak kepentingan rakyat Amerika demi tujuan pribadi," ujar Diaz-Canel di media sosial. Pernyataannya ini ditengarai merujuk pada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, politikus keturunan Kuba-Amerika yang dikenal sangat anti-pemerintah Kuba.

Kuba sendiri saat ini sedang dihantam krisis energi parah, ditandai dengan pemadaman listrik bergilir akibat kelangkaan bahan bakar. Kondisi ini semakin buruk setelah pasokan kritis minyak dari Venezuela terputus. Hal ini terjadi setelah AS mengambil kendali efektif atas sektor minyak Venezuela menyusul insiden penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya dalam serangan militer di Caracas awal bulan ini. Setidaknya 32 anggota angkatan bersenjata dan intelijen Kuba disebut tewas dalam serangan 3 Januari tersebut. Sejak itu, Trump juga telah mengancam pemerintah kiri lain di kawasan tersebut, berjanji menghentikan pengiriman minyak yang sebelumnya dialokasikan untuk Kuba.

Menyikapi ancaman tarif AS, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez pada Jumat (waktu setempat) mendeklarasikan "keadaan darurat internasional". Ia menegaskan, langkah AS tersebut merupakan "ancaman tidak biasa dan luar biasa" bagi negaranya. Senada, pemerintah Venezuela juga mengecam keras kebijakan ini, menyebutnya melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip perdagangan global.

Bagi warga Kuba, ancaman tarif ini ibarat pukulan telak yang memperparah penderitaan mereka akibat sanksi AS yang terus meningkat. Di Havana, kemarahan publik memuncak. "Makanan saya jadi busuk. Kami tidak punya listrik sejak jam enam pagi," keluh Yenia Leon kepada Al Jazeera. "Anda tidak bisa tidur. Harus beli makanan setiap hari. Tidak ada solusi untuk situasi listrik," tambahnya. Warga lain, Lazaro Alfon, menyebut situasi ini sebagai "perang". Analis menilai, ancaman Trump ini merupakan "pukulan ekonomi paling kuat yang pernah dihadapi pulau tersebut dari Amerika Serikat".

Beberapa hari setelah insiden Maduro, Trump juga sempat mendesak Kuba untuk "membuat kesepakatan sebelum terlambat", tanpa merinci bentuk kesepakatan yang dimaksud. Bahkan, Trump pernah menyarankan Rubio bisa menjadi Presiden Kuba melalui platform Truth Social miliknya, dengan komentar "Kedengarannya bagus bagiku!"

Situasi ini menegaskan kembali betapa rentannya ekonomi Kuba di bawah tekanan sanksi AS yang terus menerus. Tanpa pasokan energi yang stabil, kehidupan sehari-hari masyarakat akan semakin tercekik, memicu potensi krisis kemanusiaan yang lebih dalam di negara Karibia tersebut. Ketegangan diplomatik antara AS dan negara-negara Amerika Latin yang condong ke kiri pun diperkirakan akan semakin memanas.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook