Proses evakuasi warga dari Kota Oleshky, wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, resmi dimulai pada Selasa setelah gencatan senjata disepakati di seluruh garis depan Kherson. Kesepakatan ini dimediasi oleh Ibu Negara AS, Melania Trump, dan memungkinkan jalur keluar dari Oleshky dibersihkan dari ranjau.
Warga yang ingin pergi memiliki waktu empat jam untuk meninggalkan kota. Sebanyak 25 bus disiapkan untuk mengangkut hingga 750 orang hingga pukul 14.00 waktu setempat, dilengkapi ambulans bagi warga dengan keterbatasan mobilitas. Namun, ratusan warga dilaporkan memilih bertahan meski kondisi kota porak-poranda tanpa gas, listrik, dan air bersih.
Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, menegaskan bahwa siapa pun yang ingin pergi akan difasilitasi dengan aman, sementara yang memilih tinggal tetap akan menerima bantuan kemanusiaan. Rute evakuasi tergolong berliku: pengungsi harus melintasi wilayah pendudukan Rusia, diterbangkan ke Anapa di Rusia selatan, lalu ke Gomel, Belarusia, sebelum akhirnya menyeberang ke wilayah Chernihiv, Ukraina.
Di sisi lain, Rusia mengklaim telah menyiapkan bantuan puluhan ton berupa makanan, obat-obatan, dan bahan bakar untuk warga yang bertahan. Seorang warga Oleshky mengaku enggan pergi karena hewan peliharaannya tidak diizinkan ikut. Kisah pilu juga datang dari Olena, warga Kyiv, yang nenek dan kerabatnya memilih bertahan. Bibi dari neneknya meninggal musim dingin lalu setelah kakinya terputus akibat menginjak ranjau darat — korban luka dan tewas di Oleshky bahkan diangkut ke rumah sakit menggunakan gerobak kebun.
Analisis dampak: Evakuasi ini menyoroti kompleksitas krisis kemanusiaan di wilayah konflik — antara keselamatan jiwa dan ikatan emosional warga terhadap rumah serta hewan peliharaan. Rute evakuasi yang memutar melalui Rusia dan Belarusia berpotensi menimbulkan kekhawatiran soal keamanan dan netralitas proses. Sementara itu, keberadaan ranjau darat di area permukiman menjadi ancaman jangka panjang bagi warga sipil, bahkan setelah gencatan senjata berakhir.