Gelombang kejut menyelimuti Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara gabungan berskala besar ke Iran pada Sabtu lalu. Operasi bernama "Epic Fury" ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan penanda dimulainya fase permusuhan militer terbuka yang bisa mengubah peta geopolitik kawasan. Dengan tujuan menghancurkan kapasitas nuklir dan rudal Iran, serangan ini disebut-sebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan menelan korban ratusan jiwa, sembari membebani pembayar pajak Amerika dengan biaya fantastis yang terus membengkak.
Serangan mendadak yang melibatkan lebih dari 20 sistem senjata canggih dari udara, laut, dan darat ini menargetkan lebih dari 1.250 sasaran di seluruh Iran, termasuk fasilitas terkait nuklir dan instalasi rudal. Presiden AS Donald Trump, yang mengonfirmasi keterlibatan Amerika pada 28 Februari lalu melalui unggahan video, menegaskan operasi ini bertujuan vital: "memastikan Iran tidak mendapatkan senjata nuklir" dan "memusnahkan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah."
Salah satu dampak paling mengejutkan dari serangan gelombang pertama adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kompleks kediamannya di Teheran dikabarkan luluh lantak. Kematian tokoh sentral ini berpotensi memicu ketidakpastian politik yang lebih dalam di Iran, atau sebaliknya, menyulut semangat perlawanan yang lebih besar dari negara tersebut.
Pusat Komando AS (CENTCOM) mengklaim telah menghancurkan 11 kapal Iran. Sementara itu, Palang Merah Iran melaporkan setidaknya 555 orang tewas di 130 lokasi berbeda per hari Senin. Presiden Trump sendiri telah memberi sinyal bahwa operasi militer ini bisa berlangsung selama empat hingga lima minggu ke depan, demi mencapai tujuannya.
Di balik riuhnya rentetan serangan, ada beban finansial yang tak sedikit. Sejak 7 Oktober 2023, Amerika Serikat telah mengucurkan bantuan militer sekitar $21,7 miliar kepada Israel. Selain itu, operasi militer AS di Yaman, Iran, dan Timur Tengah secara umum telah menghabiskan dana antara $9,65 miliar hingga $12,07 miliar. Artinya, total pengeluaran AS terkait konflik ini kini mencapai antara $31,35 miliar hingga $33,77 miliar, dan angka tersebut masih terus bergerak naik. Angka ini mencerminkan biaya kolosal yang ditanggung pembayar pajak AS dan memunculkan pertanyaan besar tentang keberlanjutan kampanye militer semacam ini.
Meski fokus utama saat ini adalah melumpuhkan kemampuan ofensif Iran, para ahli mengingatkan bahwa tantangan terbesar ke depan mungkin bukan hanya biaya, melainkan ketersediaan inventaris senjata. Eskalasi konflik ini bukan sekadar babak baru ketegangan, melainkan lompatan berbahaya menuju perang terbuka di Timur Tengah, yang bisa berdampak jauh melampaui batas regional. Kematian pemimpin kharismatik Iran dan biaya fantastis yang dikerahkan AS menandai perubahan dramatis dalam dinamika kawasan, memicu kekhawatiran global akan stabilitas dan perdamaian dunia.