TRUMP KLAIM NEGOSIASI, IRAN TEGAS: HOAKS MANIPULASI PASAR! - Berita Dunia
← Kembali

TRUMP KLAIM NEGOSIASI, IRAN TEGAS: HOAKS MANIPULASI PASAR!

Foto Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bikin geger dengan mengumumkan jeda serangan terhadap infrastruktur listrik Iran selama lima hari. Bukan cuma itu, Trump juga sesumbar bahwa Washington dan Teheran sudah menggelar "percakapan yang sangat baik dan produktif" demi mengakhiri perang mereka. Senin lalu, ia bahkan bilang utusannya sedang bicara dengan pejabat senior Iran. Publik pun mulai berspekulasi, media di Israel dan AS menyebut nama Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai sosok yang berdialog dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu sang presiden.

Namun, Teheran langsung melancarkan bantahan keras. Baik pemerintah Iran maupun Ghalibaf sendiri membantah mentah-mentah adanya negosiasi dengan AS. Melalui akun X-nya, Ghalibaf menegaskan, "Tidak ada negosiasi yang terjadi dengan AS, dan berita palsu ini digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari rawa yang menjebak AS dan Israel." Kementerian Luar Negeri Iran bahkan menuding Trump sengaja menunda ancaman serangannya hanya demi menenangkan pasar energi.

Klaim Trump ini memang muncul di tengah panasnya hubungan kedua negara. Sebelumnya, Sabtu lalu, Trump sempat mengultimatum Iran 48 jam untuk membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz atau siap-siap menghadapi serangan AS pada pembangkit listriknya. Iran merespons ancaman tersebut dengan janji akan menyerang fasilitas energi dan air di Israel serta negara-negara Teluk jika diserang.

Sosok Mohammad Bagher Ghalibaf sendiri bukan orang sembarangan. Pria 64 tahun ini adalah Ketua Parlemen Iran yang punya rekam jejak mentereng: pernah jadi komandan Angkatan Udara Garda Revolusi Islam (IRGC), kepala polisi, hingga Wali Kota Teheran. Ia juga beberapa kali maju sebagai kandidat presiden. Meski demikian, dalam sistem politik Iran, setiap negosiasi dengan AS harus mendapat restu dari Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi agar punya legitimasi.

Apa Dampaknya?

Klaim negosiasi dari satu pihak yang dibantah keras oleh pihak lain jelas menciptakan ketidakpastian. Di satu sisi, pasar energi mungkin sempat merespons positif jeda ancaman serangan, namun bantahan Iran bisa kembali memicu gejolak. Ini menunjukkan adanya "perang narasi" antara AS dan Iran, di mana informasi digunakan sebagai alat untuk memengaruhi opini publik, pasar, atau bahkan sebagai bagian dari strategi negosiasi yang lebih besar. Masyarakat perlu mencermati informasi ini dengan hati-hati, karena fluktuasi harga minyak dan stabilitas regional di Timur Tengah sangat bergantung pada perkembangan hubungan kedua negara adidaya ini. Konflik informasi semacam ini juga bisa jadi taktik masing-masing pihak untuk memperkuat posisi tawarnya, atau bahkan untuk sekadar meredakan ketegangan sesaat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook