Jakarta - Grup pop asal Jepang, XG, punya ritual unik sebelum naik panggung. Ketujuh anggota, yang terdiri dari Maya, Juria, Hinata, Harvey, Cocona, Chisa, dan Jurin, selalu membentuk lingkaran dan bergandengan tangan. Pemimpin grup, Jurin, akan berteriak 'Hesono', lalu dijawab serempak oleh anggota lain dengan teriakan 'Oh' sambil melambungkan tangan ke udara. Ritual ini ternyata memiliki makna yang dalam.
Kata 'Hesono-o' (へその緒) dalam bahasa Jepang berarti tali pusar. Bagi XG, istilah ini melambangkan ikatan yang sangat kuat di antara mereka, layaknya hubungan ibu dan anak sejak lahir. Chisa, anggota tertua, mengaku ide ini muncul dari mimpinya di mana ia melihat para anggota terhubung oleh tali pusar. 'Kami sangat terhubung, selalu memikirkan hal yang sama,' ujar Chisa kepada BBC setelah penampilan debut mereka di Capital's Summertime Ball, Wembley Stadium.
Ikatan ini tidak terbentuk dalam semalam. XG dibentuk dari ribuan kandidat di Jepang pada 2016. Dua puluh satu orang terpilih menjalani pelatihan keras selama lima tahun. Mereka tinggal di asrama dan mengikuti pelajaran dari pagi hingga malam, mulai dari menyanyi, menari, hingga belajar bahasa asing. Dalam sebuah dokumenter, terlihat para trainee dimarahi karena mengunggah foto di media sosial. Mereka juga menjalani latihan fisik ekstrem hingga ada yang pingsan dan menangis. Maya menyebut masa itu sebagai 'pertarungan melawan diri sendiri secara fisik dan mental', sementara Chisa menyebutnya sebagai 'survival murni'.
Analisis Dampak: Kisah XG menunjukkan bahwa kesuksesan grup K-Pop (atau J-Pop) tidak lepas dari sistem pelatihan yang ketat dan 'keras'. Hal ini memicu diskusi di kalangan penggemar dan pegiat industri musik tentang kesejahteraan mental para trainee. Meski menghasilkan ikatan yang solid, metode 'pemurnian' seperti ini kerap menuai kritik karena dianggap eksploitatif. Namun, dari sisi pemasaran, narasi perjuangan dan persaudaraan seperti ini justru menjadi 'senjata' ampuh untuk membangun loyalitas penggemar (fandom) yang kuat.