Dinding-dinding megah Royal Lodge, kediaman Pangeran Andrew, menyimpan rahasia kelam yang kini mulai terkuak. Dokumen terbaru Departemen Kehakiman AS menunjukkan bahwa istana tersebut bukan sekadar lokasi pesta privat, melainkan juga tempat Pangeran Andrew menggelar pertemuan finansial krusial dengan terpidana kejahatan seks Jeffrey Epstein, bahkan setelah Epstein tercatat sebagai residivis.
Surat elektronik (email) yang baru dirilis, dan ditinjau oleh Al Jazeera, mengungkap bahwa antara tahun 2009 hingga 2011, saat Pangeran Andrew masih menjabat sebagai utusan dagang Kerajaan Inggris, ia aktif mengadakan rapat-rapat penting di Royal Lodge yang melibatkan Epstein. Puncaknya, pada 30 Agustus 2010, Pangeran Andrew menyelenggarakan "rapat besar" di kediamannya, di mana Epstein memberikan nasihat strategis. Bahkan, Epstein turut menasihati mengenai potensi kebangkrutan untuk "F", yang diyakini merujuk pada Sarah Ferguson, mantan istri Pangeran Andrew.
Terkuaknya fakta ini semakin menambah panas penyelidikan yang sedang berlangsung di Inggris. Sebelumnya, Royal Lodge telah digeledah oleh kepolisian sebagai bagian dari investigasi apakah Pangeran Andrew, dalam kapasitasnya sebagai utusan dagang, telah membagikan materi rahasia pemerintah kepada Epstein. Pekan lalu, Pangeran Andrew sempat ditahan sebentar atas dugaan penyalahgunaan jabatan publik, meski kemudian dibebaskan tanpa tuntutan resmi.
Royal Lodge sendiri adalah properti abad ke-17 di Windsor Great Park yang disewa Pangeran Andrew sejak 2003 dengan kontrak 75 tahun. Sejak lama, istana ini dikaitkan dengan berbagai kontroversi, termasuk kunjungan Epstein pada 2006 sebelum menghadiri pesta ulang tahun Putri Beatrice, serta kehadiran tokoh-tokoh bermasalah hukum lainnya seperti Harvey Weinstein dan Ghislaine Maxwell.
Implikasi dari temuan ini sangatlah serius. Skandal ini tidak hanya makin memperburuk reputasi Pangeran Andrew yang sudah babak belur akibat keterlibatannya dengan Epstein, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai integritas keamanan informasi negara dan etika monarki. Publik menuntut transparansi penuh atas dugaan penyalahgunaan wewenang seorang bangsawan dalam menjalin hubungan dengan seorang kriminal yang sudah jelas bermasalah hukum.