KRISIS HORMUZ MENDIDIH: INGGRIS PIMPIN UPAYA DUNIA - Berita Dunia
← Kembali

KRISIS HORMUZ MENDIDIH: INGGRIS PIMPIN UPAYA DUNIA

Foto Berita

Dunia tengah menghadapi krisis energi global setelah Selat Hormuz, jalur vital pengiriman sekitar 20 persen minyak dan gas dunia, diblokir secara de facto oleh Iran. Blokade ini terjadi menyusul konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari lalu. Akibatnya, harga minyak global melonjak tajam hingga 40%, melampaui 100 dolar AS per barel, memaksa negara-negara, khususnya di Asia, untuk melakukan penjatahan bahan bakar dan memangkas produksi industri. Sebagai contoh konkret, Malaysia bahkan harus memerintahkan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk bekerja dari rumah demi menghemat energi.

Menyikapi situasi genting ini, Inggris menginisiasi pertemuan virtual darurat dengan lebih dari 40 negara. Pertemuan yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper pada Kamis lalu ini bertujuan membahas strategi untuk membuka kembali selat strategis tersebut. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan, negara-negara peserta siap berkolaborasi untuk menjamin jalur pelayaran aman di Selat Hormuz. Sejumlah negara besar seperti Prancis, Belanda, Jerman, Italia, Kanada, Australia, dan Uni Emirat Arab, serta negara-negara Uni Eropa yang awalnya enggan terlibat, kini turut serta.

Menariknya, Amerika Serikat tidak berpartisipasi dalam pertemuan ini. Presiden AS Trump secara blak-blakan menyatakan bukan tanggung jawabnya untuk membuka selat, bahkan menyarankan negara-negara Eropa untuk “mencari minyak mereka sendiri.” Dalam pernyataan di Truth Social, Trump juga mengkritik sekutu yang menolak “memenggal Iran”, menyuruh mereka membeli bahan bakar AS atau terlibat langsung dalam perang yang memanas. Menurutnya, “bagian sulit sudah selesai” dalam konflik tersebut.

Starmer menjelaskan, agenda pertemuan mencakup penilaian semua langkah diplomatik dan politik yang memungkinkan untuk memulihkan kebebasan navigasi, menjamin keselamatan kapal dan pelaut yang terjebak, serta melancarkan kembali pergerakan komoditas vital. Setelah fase diplomatik, Inggris juga akan mengumpulkan perencana militer untuk merancang bagaimana Selat Hormuz bisa diakses dan aman setelah pertempuran usai. Krisis ini bukan hanya mengancam pasokan energi global, tetapi juga menyoroti pergeseran dinamika geopolitik, di mana sekutu AS didesak untuk lebih mandiri dalam menghadapi tantangan global.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook