Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan mendesak, meminta seluruh warganya untuk segera meninggalkan belasan negara di Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah eskalasi serangan militer antara AS-Israel dengan Iran yang kian memanas, memunculkan kekhawatiran akan "risiko keamanan serius" di kawasan tersebut.
Peringatan yang disampaikan pada hari Senin ini menyusul pembaruan saran perjalanan beberapa hari sebelumnya yang sudah merekomendasikan untuk tidak bepergian ke sejumlah negara. Daftar negara yang kini masuk dalam imbauan untuk "SEGERA DEPART" ini meliputi Bahrain, Mesir, Iran, Irak, Israel, wilayah Tepi Barat dan Gaza yang diduduki, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab, dan Yaman.
Melalui sebuah unggahan di platform X, Mora Namdar, Asisten Sekretaris Departemen Luar Negeri untuk Urusan Konsuler, secara eksplisit meminta warga AS untuk pergi menggunakan transportasi komersial yang tersedia. Tekanan untuk segera pergi ini didasari oleh situasi keamanan yang memburuk.
Pemicu utama eskalasi ini adalah serangkaian serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu, yang dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran pun tak tinggal diam dan membalas dengan serangannya sendiri di berbagai penjuru kawasan.
Yang menarik, cara penyampaian peringatan ini terbilang tidak biasa. Pengamat seperti Patty Culhane dari Al Jazeera menyebutnya sebagai tindakan "sangat aneh" karena disampaikan melalui media sosial oleh seorang asisten sekretaris, bukan melalui saluran resmi Departemen Luar Negeri yang biasa. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang status kebijakan dan urgensi yang sesungguhnya; apakah ini merupakan cara cepat untuk memberi peringatan di tengah situasi genting, atau justru menunjukkan ada tingkat krisis yang lebih dalam yang memerlukan jalur komunikasi non-konvensional.
Tanda-tanda ketegangan juga terlihat di Yordania, di mana Kedutaan Besar AS di Amman pada hari yang sama mengumumkan bahwa personel diplomatiknya telah dievakuasi karena adanya ancaman. Presiden AS Donald Trump sendiri memprediksi konflik ini akan berlangsung antara empat hingga lima minggu, namun tidak menutup kemungkinan bisa berlarut-larut lebih lama.
Kini, pertanyaan besar muncul: bagaimana ribuan warga AS bisa meninggalkan seluruh Timur Tengah, mengingat lalu lintas komersial yang sudah terganggu parah akibat serangan rudal di kawasan tersebut? Peringatan ini tidak hanya menyoroti bahaya fisik, tetapi juga tantangan logistik besar yang harus dihadapi. Kondisi ini memperlihatkan betapa rapuhnya situasi di Timur Tengah saat ini, menuntut kewaspadaan tinggi bagi siapa pun yang berada di sana.