MISIL IRAN: KEKUATAN BARU ANCAM TIMUR TENGAH? - Berita Dunia
← Kembali

MISIL IRAN: KEKUATAN BARU ANCAM TIMUR TENGAH?

Foto Berita

Dunia menahan napas. Setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior Iran tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu lalu, Teheran tak buang waktu membalas. Iran kini melancarkan serangan balasan ke Israel serta situs militer terkait AS di sejumlah negara Teluk yang menjadi markas pasukan Amerika.

Langkah ini bukan sekadar balasan biasa; Teheran melihatnya sebagai pertarungan hidup-mati demi kelangsungan Republik Islam. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menegaskan pada Minggu bahwa membalas kematian Khamenei dan para pejabat lainnya adalah 'kewajiban dan hak sah' negaranya.

Kini, pertanyaan besar menggantung di benak ibu kota kawasan dan pasar global: Akankah ini hanya siklus balas-membalas biasa, atau justru membuka lembaran perang berkepanjangan yang dipicu oleh jangkauan serangan Iran, kekuatan sekutu, serta tekanan terhadap pelayaran dan infrastruktur energi?

Ancaman utama Iran? Bukan angkatan udara modern, melainkan gudang misilnya. Analis pertahanan menyebutnya sebagai yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, mencakup misil balistik dan jelajah. Ini adalah tulang punggung pertahanan Teheran, terutama karena angkatan udara mereka masih mengandalkan pesawat tua.

Misil balistik jarak jauh Iran sanggup menjangkau 2.000 hingga 2.500 km. Artinya, Israel, pangkalan AS di Teluk, hingga sebagian besar kawasan yang lebih luas, ada dalam jangkauan. Meski demikian, klaim sebagian pihak bahwa misil ini bisa mencapai AS adalah keliru. Iran juga punya misil balistik jarak pendek (150-800 km) untuk target militer terdekat, yang bisa diluncurkan secara beruntun, mempersulit waktu peringatan, dan menyulitkan serangan pendahulu.

Dulu, Iran pernah menggunakan strategi ini pada Januari 2020, menembakkan misil balistik ke pangkalan udara Ain al-Assad di Irak setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani. Serangan itu merusak infrastruktur dan menyebabkan lebih dari 100 personel AS mengalami cedera otak traumatis, menunjukkan kapasitas Iran untuk menimbulkan kerugian besar tanpa harus berhadapan langsung secara konvensional. Barat sendiri khawatir misil Iran memicu instabilitas regional dan berpotensi mendukung peran pengiriman nuklir di masa depan, tuduhan yang selalu dibantah Teheran.

Dibandingkan konflik sebelumnya, seperti 'perang' 12 hari antara AS dan Israel di masa lalu (sebagaimana yang disebut dalam laporan), pembunuhan Khamenei kali ini tampaknya telah meyakinkan Teheran bahwa ini adalah pertarungan untuk kelangsungan hidup Republik Islam. Penundaan atau pembatasan pembalasan dianggap sebagai kelemahan, justru mengundang serangan lebih lanjut.

Dampak gejolak ini telah mengguncang pasar global dan ibu kota di kawasan, menuntut kewaspadaan tinggi dari semua pihak.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook