JAKARTA - Sejumlah negara besar di Eropa Barat kini mulai angkat bicara dan berbalik menentang potensi serangan baru AS-Israel ke Iran. Perubahan sikap ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak global yang semakin memperparah krisis biaya hidup di Benua Biru, terutama saat musim dingin kian dekat.
Negara seperti Jerman dan Inggris yang awalnya bungkam soal bombardir AS-Israel, kini secara terbuka mendesak jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik yang telah mengacaukan pasokan minyak dunia. Gangguan energi ini langsung memukul daya beli masyarakat dan memicu gelombang protes standar hidup di berbagai ibu kota Eropa dalam beberapa pekan terakhir.
Menariknya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyoroti pergeseran sikap Jerman. Ia membandingkan pernyataan Kanselir Friedrich Merz pada kampanye militer Juni 2025 yang menyebut aksi Israel sebagai 'pekerjaan kotor' yang menguntungkan semua pihak, dengan peringatan terbaru Jerman yang justru menolak eskalasi serangan baru.
Para pengamat menilai pernyataan Baghaei mencerminkan tren baru di Eropa, di mana para pemimpin mulai mempertanyakan dukungan mereka terhadap perang AS-Israel. Dalam pertemuan di Istanbul baru-baru ini, Menlu Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia bersama Turkiye, Arab Saudi, Pakistan, dan Mesir menyerukan kedua belah pihak untuk menahan diri. Menlu Prancis, Jean-Noel Barrot, menegaskan eskalasi baru hanya akan menciptakan 'pihak yang kalah' dan berdampak serius pada harga energi.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat Eropa, kenaikan harga energi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata menjelang musim dingin. Jika konflik kembali memanas, inflasi bisa tak terkendali dan memicu kerusuhan sosial yang lebih luas. Sementara bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mengerek harga BBM dan biaya logistik nasional, mengingat sebagian besar impor minyak kita melewati jalur tersebut.