Jakarta, 7 Juni 2025 – Sebuah laporan eksklusif dari analis politik Amerika Serikat mengungkap dampak dahsyat operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Dalam serangan yang disebut sebagai perang nyata, bukan sekadar perang proksi, kekuatan militer dan program nuklir Iran mengalami kehancuran total.
Menurut laporan tersebut, serangan yang dilancarkan pada 28 Februari lalu berhasil melumpuhkan 'mahkota' strategi pertahanan Iran, yakni program rudal balistiknya. Markas angkatan laut Iran juga disebut hancur. Fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan, yang telah dibangun selama puluhan tahun dengan biaya miliaran dolar, kini tinggal puing.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam penilaiannya menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi sangat besar dan proyek senjata nuklir Iran dipastikan berakhir. Tak hanya itu, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang telah berkuasa selama 37 tahun, tewas di hari pertama serangan. Kepergiannya dianggap sebagai pukulan telak bagi rezim yang selama ini membangun Hezbollah, Hamas, dan milisi di berbagai negara.
Analisis Dampak: Peristiwa ini mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara drastis. Kehancuran infrastruktur militer dan nuklir Iran menciptakan kekosongan kekuatan yang bisa memicu perebutan pengaruh baru. Di sisi lain, kematian Khamenei berpotensi memicu perang saudara atau perebutan kekuasaan internal di Iran. Masyarakat internasional kini mengkhawatirkan eskalasi konflik yang lebih luas, mengingat jaringan milisi yang dibina Iran di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Irak bisa bergerak tanpa komando terpusat.