RAHASIA DI BALIK DIAMNYA RUSIA SAAT IRAN BERGEJOLAK - Berita Dunia
← Kembali

RAHASIA DI BALIK DIAMNYA RUSIA SAAT IRAN BERGEJOLAK

Foto Berita

Awalnya terkesan kalem, Rusia akhirnya buka suara terkait gejolak demonstrasi di Iran. Moskow kini tampaknya bisa bernapas lega setelah menganggap kerusuhan massal di negara Republik Islam itu sudah mereda.

Menurut Nikita Smagin, seorang pakar Iran terkemuka di Rusia yang sekarang berada di luar negeri pasca-invasi Ukraina, Kedutaan Besar Rusia di Teheran telah menginformasikan kepada Kremlin bahwa gelombang protes telah mereda. Informasi ini membuat Kremlin 'bisa bernapas lega', kata Smagin.

Demonstrasi yang dipicu masalah ekonomi itu sendiri meletus pada 28 Desember dan dengan cepat menyebar ke ratusan kota di seluruh Iran, negara yang dihantam sanksi dan berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa. Aparat penegak hukum Iran berhasil meredakan protes, bahkan disebut-sebut dengan kekerasan. Moskow pun 'berpikir bahwa tidak ada lagi yang mengancam Iran dari dalam', tambah Smagin.

Setelah periode keheningan selama hampir dua minggu, Kementerian Luar Negeri Rusia pada Selasa (waktu setempat) akhirnya angkat bicara. Mereka mengecam 'tekanan ilegal Barat' dan menuding adanya 'kekuatan eksternal' tak dikenal yang berupaya 'mengacaukan dan menghancurkan' Republik Islam Iran.

Juru bicara Kemenlu Rusia, Mariya Zakharova, bahkan mengklaim bahwa 'metode terkenal 'revolusi warna'' sedang digunakan, di mana 'provokator yang terlatih dan bersenjata mengubah protes damai menjadi kekacauan brutal dan tak masuk akal.' Tuduhan 'revolusi warna' ini adalah narasi lama Kremlin tentang upaya Barat menggulingkan pemerintah pro-Rusia di negara-negara bekas Uni Soviet.

Zakharova juga mengecam keras ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin ikut campur dalam protes Iran. Trump sebelumnya mendesak warga Iran untuk 'mengambil alih institusi' dan menjanjikan 'bantuan dari AS.' Pada awal Januari, Trump bahkan pernah menulis, 'Kami terkunci dan siap tempur,' dan di bulan Juni, menyebut Ayatollah Ali Khamenei sebagai 'target mudah.' Moskow menilai campur tangan Trump 'sama sekali tidak dapat diterima.'

Menariknya, Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri belum berkomentar langsung soal protes ini. Sikap diam ini mirip saat Putin mengabaikan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sekutu terdekat Moskow di Amerika Latin, pada 3 Januari lalu.

Smagin menjelaskan, keheningan awal Moskow disebabkan ketidakpastian apakah pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei akan bertahan. Kremlin khawatir pernyataan keras justru bisa 'menghambat perbaikan hubungan dengan otoritas baru' jika terjadi pergantian kepemimpinan. Sikap Rusia ini mirip dengan respons mereka saat Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan pada Desember 2024, di mana Rusia memilih menunggu sampai situasi politik lebih jelas.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook