DOHA, QATAR — Seorang diplomat senior Amerika Serikat, Tom Barrack, membuat pernyataan mengejutkan di Forum Keamanan Global Doha. Ia mengakui bahwa Washington selama puluhan tahun telah salah langkah dalam melakukan intervensi di Timur Tengah. Barrack, yang menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Turki dan Utusan Khusus untuk Suriah, menyebut bahwa AS telah terlibat dalam upaya penggulingan rezim sebanyak 23 kali di kawasan tersebut.
"Setiap kali kita mencoba intervensi, mengganti orang atau rezim, sepertinya itu selalu menjadi kesalahan," ujarnya, Selasa (25/2). Pernyataan ini menandai pergeseran besar dalam kebijakan luar negeri AS yang selama ini dikenal dengan hubungan 'keamanan untuk minyak'. Barrack menegaskan bahwa AS tidak akan pergi dari Timur Tengah, namun akan mengubah perannya dari yang sebelumnya mendominasi menjadi mitra yang tidak mengontrol.
Di sisi lain, negosiasi untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran masih terus berjalan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menyatakan bahwa negosiasi antara Washington dan Tehran masih berlangsung intensif. Meski begitu, ia menegaskan bahwa tidak adanya informasi publik mengenai perkembangan negosiasi bukan berarti tidak ada kemajuan. "Fakta bahwa kita tidak mendengarnya adalah tanda baik bahwa kita melakukan tugas dengan benar," kata al-Ansari.
Analisis Dampak: Pengakuan Barrack ini menjadi sinyal kuat bahwa AS mulai merasionalisasi keterlibatannya di Timur Tengah. Bagi masyarakat global, pernyataan ini membuka peluang berakhirnya konflik berkepanjangan yang selama ini mengganggu stabilitas pasokan energi dunia. Namun, bagi sekutu AS di kawasan, pernyataan ini bisa memicu kekhawatiran akan berkurangnya jaminan keamanan. Sementara itu, kelanjutan negosiasi dengan Iran menjadi angin segar bagi pasar minyak global yang sempat terpuruk akibat ketegangan di Selat Hormuz.