London, Al Jazeera — Menteri untuk Irlandia Utara, Hilary Benn, mengecam keras aksi kekerasan massa yang terjadi di Belfast selama dua hari terakhir sebagai 'premanisme rasis'. Kerusuhan ini dipicu oleh penikaman brutal yang dilakukan oleh seorang pria asal Somalia yang telah mendapat suaka pada Senin lalu.
Benn menyatakan bahwa kekerasan yang menargetkan orang berdasarkan warna kulit tidak bisa disebut lain selain aksi rasis. Ia melaporkan bahwa polisi telah menangkap 16 orang pada Rabu malam dan situasi mulai mereda dibandingkan hari sebelumnya. Namun, massa masih berusaha mencapai hotel yang sebelumnya menjadi sasaran karena dihuni para pencari suaka.
Kekerasan jalanan ini tidak hanya memicu ketegangan imigrasi yang sudah panas di Inggris akibat ulah kelompok sayap kanan, tetapi juga membangkitkan kembali kenangan pahit 'The Troubles'—konflik sektarian selama tiga dekade antara nasionalis Katolik Irlandia dan loyalis Protestan pendukung Inggris. Konflik berdarah itu baru berakhir setelah penandatanganan Perjanjian Jumat Agung pada 1998.
Asisten Kepala Polisi Ryan Henderson mengungkapkan bahwa banyak aksi kekerasan dikoordinasikan secara online, baik dari dalam maupun luar Irlandia Utara. Pelaku penikaman, Hadi Alodid, warga negara Sudan, telah ditahan dan didakwa dengan percobaan pembunuhan. Sidangnya ditunda hingga 8 Juli. Sementara itu, kondisi korban, Stephen Ogilvie, dikabarkan membaik.
Dampak: Kembalinya kekerasan bermotif rasial ini memicu kekhawatiran mendalam akan stabilitas Irlandia Utara yang sudah puluhan tahun damai. Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menjadi alat mobilisasi massa yang berbahaya, sekaligus menguji ketahanan perjanjian damai yang selama ini dijaga.