Di tengah musim hujan, jutaan warga Kenya terancam kelaparan parah dan kesulitan air bersih. Ironisnya, hingga 40% makanan yang diproduksi di negara itu justru terbuang sia-sia setiap tahun.
Kondisi paling memilukan terlihat di Turkana. Di tengah teriknya Kainama, Veronica Akalapatan dan tetangganya harus berjalan berkilo-kilometer setiap hari hanya untuk mencapai sumur yang nyaris kering. Sumur sedalam lubang tanah dengan tangga kayu itu adalah satu-satunya sumber air di daerah tersebut. Ratusan orang dari berbagai desa—bersama ternak mereka—berebut air, seringkali menunggu berjam-jam hanya untuk mengisi beberapa ember plastik kecil dengan air kotor yang tak seberapa. “Kami harus bergantian mengambil air karena sangat sedikit. Banyak dari kami, kadang sampai berkelahi,” tutur Akalapatan.
Padahal, saat ini mestinya musim hujan, namun para ahli cuaca justru memperingatkan bahwa wilayah gersang seperti Turkana kemungkinan besar tak akan banyak mendapat air. Pemerintah Kenya menyatakan kekeringan kembali melanda, mempengaruhi 23 dari 47 wilayah di negara itu. Diperkirakan 3,4 juta orang tak punya cukup makanan, setidaknya 800.000 anak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi, dan ribuan ternak—penopang hidup masyarakat pastoral—mati. Di Turkana saja, 350.000 rumah tangga berada di ambang kelaparan. “Kami menderita kelaparan. Kami tidak punya air. Ternak kami mati. Kami tidak punya apa-apa,” ungkap Peter Longiron Aemun, seorang tetua Turkana.
Kenya sendiri masih berjuang pulih dari kekeringan terburuk dalam 40 tahun terakhir, yang melanda dari 2020 hingga 2023. Krisis cuaca baru ini tentu memperparah keadaan. Namun, di balik itu, ada paradoks mencolok: kelangkaan di tengah kelimpahan. Ironisnya, di saat warga kesulitan air bersih karena sumur dan sungai mengering, Danau Turkana justru meluap beberapa tahun terakhir, bahkan sampai mengusir penduduk di tepiannya. Di sisi lain, hujan deras mendadak memicu banjir bandang di sungai-sungai kering lokal—yang dikenal sebagai 'luggass'—namun air itu terlalu cepat menghilang dan tak bisa menopang pertanian.
Paradoks lain yang tak kalah menyakitkan adalah soal pangan. Menurut laporan World Resources Institute (WRI) September lalu, seperempat populasi Kenya menghadapi kerawanan pangan parah, padahal hingga 40% makanan yang diproduksi di negara itu hilang atau terbuang setiap tahun. Kehilangan makanan terjadi di tingkat pertanian, selama penanganan, penyimpanan, dan transportasi, sementara pemborosan makanan terjadi di rumah tangga, restoran, dan ritel. Artinya, masalah kelaparan di Kenya bukan hanya soal kurangnya produksi, tetapi juga kegagalan sistematis dalam mengelola, mendistribusikan, dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Ini adalah alarm keras bagi dunia tentang bagaimana perubahan iklim dan inefisiensi manusia memperparah krisis kemanusiaan.