Visi kebijakan luar negeri yang diusung Donald Trump, yang kini dikenal sebagai 'Doktrin Trump', diklaim telah mengubah tatanan global dan peran Amerika Serikat di panggung dunia dengan kecepatan kilat. Berbeda dari para pendahulunya, pendekatan Trump disebut lebih berfokus pada kekuatan militer dan tekanan ekonomi demi memajukan kepentingan AS secara maksimal.
Strategi 'America First' ini menempatkan prioritas AS di atas segalanya, baik bagi sahabat maupun lawan. Doktrin ini diyakini sangat metodis dan berorientasi hasil. Pernyataan Trump yang terkadang berani dan provokatif justru sering membuat lawan gemetar, bahkan kerap menghasilkan konsesi atau kesepakatan yang diinginkan AS. Ia lihai menerapkan 'seni bernegosiasi' ala Trump untuk mencapai targetnya.
Salah satu contoh paling jelas terlihat dalam negosiasi Greenland. Trump sempat 'mengancam' Denmark, sebuah posisi tawar maksimalis, jika menolak menyerahkan pulau yang dinilai vital bagi keamanan AS itu. Hasilnya? Sebuah kesepakatan yang memperbesar jejak militer gabungan AS-Denmark, serta membuka investasi hampir eksklusif bagi Amerika Serikat, sekaligus membendung pengaruh Tiongkok dan Rusia. Misi tercapai: akses strategis AS meningkat, arsitektur keamanan Barat pun makin kuat.
Trump juga kerap menyuarakan pandangan bahwa PBB, sebagai organisasi berusia 80 tahun, kurang efektif, bahkan kerap menjadi forum anti-Amerika atau aktivisme sayap kiri. Oleh karena itu, ia cenderung memilih pendekatan bilateral atau regional, ketimbang konsensus multilateral yang sering macet akibat veto politik. Aliansi regional seperti NATO pun akan didefinisisi ulang, di mana Trump akan menekankan partisipasi kolektif dari negara-negara anggotanya. Dalam pandangannya, dengan memprioritaskan kekuatan Amerika, dunia bebas juga akan ikut diuntungkan, makmur, dan lebih aman.