Washington, DC - Miliarder dan pendiri Microsoft, Bill Gates, akhirnya buka suara di depan Komite Pengawas DPR Amerika Serikat terkait hubungannya dengan almarhum taipan keuangan yang juga terpidana kasus perdagangan seks, Jeffrey Epstein. Dalam sidang tertutup yang digelar pada Rabu (12/3) waktu setempat, Gates mengaku menyesal pernah bertemu Epstein dan menyebut dirinya hanya salah satu dari sekian banyak orang yang menyesal mengenal pria itu.
Dalam pernyataan pembukaannya, Gates menegaskan tidak memiliki pengetahuan sedikit pun soal kejahatan yang dilakukan Epstein. Ia mengaku bahwa Epstein sempat mencoba menggunakan informasi pribadi tentang dirinya untuk menekan atau memerasnya. Gates juga mengakui bahwa pertemuannya dengan Epstein adalah sebuah kesalahan penilaian yang buruk (poor judgement).
Kesaksian ini menjadi sorotan karena selama ini publik bertanya-tanya mengapa seorang filantropis sekaliber Gates bisa memiliki hubungan dengan Epstein, yang sudah lama dikenal sebagai predator seksual. Beberapa media AS melaporkan bahwa pertemuan antara keduanya terjadi beberapa kali, termasuk di kediaman Epstein di New York dan dalam penerbangan pesawat pribadi Epstein, yang dijuluki 'Lolita Express'.
Anggota kongres dari Partai Republik dan Demokrat sama-sama menekan Gates untuk mengungkap detail pertemuannya. Hasil dari sidang tertutup ini diyakini akan menjadi amunisi politik baru di Washington, terutama menjelang pemilu mendatang. Para pengamat menilai kasus ini bisa mencoreng citra Gates sebagai ikon filantropi global, meskipun ia sudah mundur dari Microsoft dan fokus pada yayasan amalnya.
Dampak bagi publik: Kasus ini kembali mengingatkan betapa mudahnya jaringan kekuasaan dan uang bisa melindungi seorang kriminal. Bagi masyarakat Indonesia, ini menjadi pelajaran bahwa tidak ada seorang pun yang kebal hukum, termasuk miliarder sekaliber Bill Gates. Sidang ini juga membuka tabir bagaimana elite global saling terhubung dan seringkali menutup-nutupi perilaku menyimpang demi menjaga reputasi.