Koalisi pimpinan Arab Saudi kembali melancarkan operasi militer besar-besaran di Yaman. Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, menyatakan pihaknya menghancurkan empat peluncur misil balistik, lima terowongan penyimpanan misil, dan sebuah depot persenjataan milik kelompok Houthi. Operasi ini disebut bertujuan memutus jalur pasokan milisi Houthi antarwilayah yang mereka kuasai, sekaligus menargetkan benteng pertahanan dan perkumpulan anggota di garis depan.
Langkah ini merupakan balasan atas gelombang serangan Houthi dalam beberapa pekan terakhir. Puncaknya, serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Insiden itu menjadi serangan paling mematikan terhadap Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Bandara sempat ditutup sementara, memaksa penundaan konferensi investasi bergengsi hingga 2027 dan mengacaukan jadwal penerbangan ribuan penumpang. Bandara baru dibuka kembali pada Minggu, meski Houthi memperingatkan bahwa fasilitas itu masih menjadi target militer.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim pihaknya menembakkan misil balistik ke Riyadh dan menyerang stasiun pompa minyak dengan drone. Ia juga mengaku bertanggung jawab atas serangan ke posisi pasukan musuh di Aden dan Lahij. Sementara itu, al-Maliki menegaskan sistem pertahanan udara Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan misil yang diluncurkan ke arah Riyadh.
Perang Yaman sendiri kembali memanas setelah gencatan senjata 2022 runtuh bulan lalu. Houthi melancarkan serangan kilat, merebut sebagian besar pesisir Laut Merah dari pasukan pemerintah, dan menyerang fasilitas energi serta bandara Saudi. Pemerintah Yaman pun meluncurkan operasi kontraoffensif "Yemen Dawn" untuk membalas. Eskalasi ini dikhawatirkan memperparah krisis kemanusiaan di Yaman dan mengganggu stabilitas pasokan energi di kawasan Laut Merah, yang berdampak langsung pada harga minyak global dan biaya logistik internasional.