Ketegangan di Tepi Barat yang diduduki kembali memanas. Laporan terbaru dari kantor berita Palestina, Wafa, menyebutkan bahwa pasukan Israel telah mengambil alih sejumlah rumah warga Palestina di Hebron untuk dijadikan barak militer dan pos pengamatan. Pengambilalihan ini terjadi di area Khallat Manna dan Dahiyat al-Zaytoun, di mana warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka sendiri.
Langkah ini merupakan buntut dari operasi militer besar-besaran yang dipicu oleh serangan terhadap pangkalan militer Israel pada Jumat lalu, yang menewaskan dua tentara. Sejak insiden tersebut, otoritas Israel memberlakukan penutupan ketat (lockdown) di Hebron dan melakukan penggerebekan masif.
Dampak kemanusiaan dari operasi ini sangat besar. Menurut Palestinian Prisoner's Society, sedikitnya 47 warga Palestina telah ditahan. Yang lebih memprihatinkan, sebanyak 293 keluargaāsetara dengan 2.200 jiwaātelah dipindahkan secara paksa. Kelompok rentan menjadi korban paling terdampak, termasuk 127 bayi, 81 ibu hamil, 26 penyandang disabilitas, serta ratusan lansia dan penderita penyakit kronis.
Di tengah situasi yang memanas, laporan Wafa juga menyebutkan bahwa pemukim Israel mulai mendirikan dua pos terdepan (outpost) baru di tanah milik warga Palestina di kota Yatta. Mereka membawa buldoser dan alat berat untuk meratakan lahan, serta mulai memasang infrastruktur seperti jaringan air dan listrik. Sementara itu, di dekat Bethlehem, penutupan jalan masih berlangsung untuk hari ketiga, memaksa warga mencari jalur alternatif yang berbahaya.
Analisis singkat: Eskalasi ini terjadi hanya beberapa hari sebelum pemilihan umum Israel. Situasi ini tidak hanya memperburuk krisis kemanusiaan di Hebron, tetapi juga memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik kekerasan, terutama menjelang musim panen zaitun yang seringkali menjadi titik gesekan antara pemukim dan petani lokal.