SEKOLAH JADI SASARAN: KAMPANYE MORAL KEMBALI MENGGEMA - Berita Dunia
← Kembali

SEKOLAH JADI SASARAN: KAMPANYE MORAL KEMBALI MENGGEMA

Foto Berita

WASHINGTON DC – Gelombang panik moral kembali menyapu Amerika Serikat. Setelah tahun lalu heboh dengan isu 'teori ras kritis', kini targetnya beralih pada pembahasan gender dan seksualitas di lingkungan sekolah.

Para kelompok konservatif menuding bahwa guru-guru di berbagai sekolah di seluruh negeri sedang “merekrut” (grooming) siswa untuk pelecehan seksual, hanya karena memperkenalkan diskusi tentang gender dan seksualitas di kelas. Ironisnya, tuduhan ini muncul di tengah upaya Partai Republik untuk membatasi perawatan medis bagi anak-anak transgender dan melarang mereka berpartisipasi dalam tim olahraga sesuai identitas gender mereka.

Sebagai editor media online, perlu kami tekankan bahwa taktik ini bukanlah hal baru. Faktanya, kampanye panik moral semacam ini adalah strategi lama yang digunakan kelompok sayap kanan untuk menyingkirkan komunitas queer dari kehidupan publik, membatasi program sosial, dan menghalangi diskusi yang jujur tentang sejarah dan identitas.

Sejarah mencatat, pola serupa sudah terjadi berulang kali:

  • Era 1940-1960an: 'Lavender Scare'
    Ribuan pegawai federal yang gay (atau dicurigai gay) dipecat atau dipaksa mundur dari pemerintahan. Mereka dianggap 'risiko keamanan' karena 'kerentanan terhadap pemerasan', menurut logika Senator Joseph McCarthy. Homoseksualitas bahkan dikaitkan dengan pandangan politik kiri.
  • Tahun 1964: 'Pamflet Ungu' di Florida
    Sebuah komite legislatif di Florida, yang dikenal sebagai 'Johns Committee', menerbitkan pamflet setebal 50 halaman. Pamflet itu berjudul “Homosexuality and Citizenship in Florida”, menuduh pria gay lebih buruk dari predator anak 'normal' dan bertujuan 'merekrut' anak-anak.
  • Tahun 1977: Kampanye 'Save Our Children' oleh Anita Bryant
    Merespons peraturan anti-diskriminasi berbasis orientasi seksual di Dade County, Florida, penyanyi Anita Bryant membentuk kampanye 'Save Our Children'. Ia mempromosikan gagasan bahwa 'homoseksual tidak bisa bereproduksi, sehingga mereka harus (merebut) anak-anak orang lain'. Pada 14 Oktober 1977, seorang aktivis hak gay, Tom Higgins, bahkan melemparkan pai krim pisang ke wajah Bryant di Den Moines, Iowa, sebagai bentuk protes.

Jadi, ketika tuduhan “grooming” kembali menggema di ruang kelas Amerika, ingatlah bahwa ini adalah gema dari taktik yang telah digunakan berulang kali. Bukan sekadar perdebatan tentang kurikulum, melainkan upaya lebih besar untuk mengontrol narasi, menargetkan identitas, dan membatasi kebebasan berekspresi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook