Washington, DC ā Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengklaim bahwa negaranya hampir mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dengan Iran. Pernyataan mengejutkan ini ia sampaikan di hadapan wartawan di Kantor Oval, Kamis (27/3) waktu setempat.
āKami baru saja membuat penyelesaian besar perang dengan Iran,ā ujar Trump. Ia menambahkan bahwa kesepakatan ini memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, yang disebutnya sebagai tujuan utama dari seluruh konflik yang terjadi.
Namun, klaim ini langsung dibantah oleh pihak Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut laporan tersebut masih spekulatif dan belum ada yang final. Ia mengakui sebagian besar teks nota kesepahaman memang sudah rampung, tetapi Amerika Serikat tiba-tiba mengajukan permintaan baru yang dianggap berlebihan.
Yang menarik, hanya beberapa jam sebelum pengumuman ini, Trump justru mengancam akan menghajar Iran dengan keras. Ia bahkan mengancam akan merebut Pulau Khargāpusat ekspor minyak utama Iranāserta infrastruktur minyak lainnya.
Ketidakpastian ini langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah Brent anjlok 4,4 persen ke level 89 dolar AS per barel. Investor panik karena sinyal yang saling bertolak belakang antara klaim damai dan ancaman perang dari Gedung Putih.
Trump juga menyebut penandatanganan kemungkinan akan dilakukan di Eropa dalam waktu dekat. Ia mengklaim Selat Hormuzājalur vital pengiriman minyak duniaāakan segera dibuka kembali begitu dokumen ditandatangani.
Sementara itu, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi telah berkomunikasi dengan Trump. Namun, mereka menegaskan Israel bukan bagian dari nota kesepahaman ini. Netanyahu justru mendesak agar kesepakatan final mencakup pembongkaran infrastruktur pengayaan uranium Iran dan penghentian dukungan Teheran terhadap kelompok proksi di kawasan.
Analisis: Klaim sepihak Trump ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, ia beberapa kali memberikan tenggat waktu untuk kesepakatan serupa yang tidak pernah terwujud. Pola ini menunjukkan bahwa pernyataan Trump kerap digunakan sebagai alat negosiasi atau tekanan politik, bukan sekadar informasi faktual. Dampaknya nyata: harga minyak berfluktuasi liar, dan stabilitas kawasan Teluk masih jauh dari kata pasti.