Jakarta — Presiden Prabowo Subianto resmi memberhentikan Dadan Hindayana dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Lembaga ini bertanggung jawab atas program makanan bergizi gratis (MBG) yang menjadi andalan pemerintah. Pemecatan ini terjadi setelah program tersebut diguncang skandal keracunan massal dan dugaan korupsi.
Sejak diluncurkan pada Januari 2024, program senilai miliaran dolar yang menyasar 80 juta anak sekolah ini justru memicu gelombang protes. Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sedikitnya 33.000 kasus keracunan makanan terjadi hingga April lalu. Ribuan anak dilaporkan muntah-muntah dan diare, sehingga banyak pihak mendesak program ini dihentikan sementara.
Tak hanya masalah kesehatan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga melaporkan adanya kejanggalan anggaran di berbagai dapur produksi MBG. Laporan itu menjadi pemicu langsung pemecatan Dadan, yang notabene seorang ahli entomologi (serangga). Sebagai pengganti, Presiden menunjuk Nanik Sudaryati Deyang, mantan jurnalis yang juga anggota tim sukses Prabowo di Pilpres 2024.
Kritikus menilai langkah ini hanya bersifat kosmetik. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar ganti orang, melainkan perubahan total pada konsep dan sistem distribusi pangan. Apalagi, Nanik dianggap tidak memiliki latar belakang di bidang gizi atau keamanan pangan.
Di sisi lain, Prabowo membela program ini. Dalam pidatonya, ia mengakui masih banyak masalah, namun menegaskan MBG sangat penting bagi rakyat kecil. "Di mana pun saya pergi, petani selalu bilang, 'Pak, jangan hentikan program ini, sangat membantu cucu saya bisa makan,'" ujarnya. Pemerintah juga terpaksa memangkas jadwal pemberian makanan dari enam hari menjadi lima hari sepekan untuk menekan biaya di tengah tekanan ekonomi global akibat perang dagang.