Hubungan antara Amerika Serikat dan Ukraina sedang berada di titik terendah. Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mencabut sebagian sanksi minyak terhadap Rusia dan diduga membatasi akses intelijen serta satelit yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka. Ia menilai Trump kini memilih berpihak pada Rusia ketimbang sekutunya. "Sangat menyakitkan ketika Presiden Trump memilih satu sisi, bukan sisi kami," ujarnya kepada jurnalis Piers Morgan.
Dampak dari pembatasan akses satelit Starshield milik SpaceX sangat fatal. Sistem navigasi ini dibatasi kecepatannya, membuat Ukraina kesulitan mencegat drone jet Rusia jenis Geran-4 yang melaju lebih dari 500 km/jam. Akibatnya, pertahanan udara Ukraina lumpuh sementara Rusia terus menggempur infrastruktur energi dengan ratusan drone dan misil.
Dalam sepekan terakhir, Rusia meluncurkan 850 drone dan 39 misil ke 30 target energi di 19 wilayah Ukraina. Serangan ini terjadi tepat setelah Trump mendeklarasikan gencatan senjata energi, menunjukkan sikap Rusia yang semakin agresif dan mengabaikan tekanan AS.
Meski demikian, Ukraina tidak tinggal diam. Mereka melancarkan 'Operasi Vivaldi' untuk merebut kembali wilayah pendudukan di Donetsk. Namun, tanpa dukungan intelijen dan satelit penuh dari AS, kemampuan Ukraina untuk mempertahankan wilayahnya semakin terancam.