MISTERI LEDAKAN TAMBANG: PULUHAN NYAWA TERPERANGKAP? - Berita Dunia
← Kembali

MISTERI LEDAKAN TAMBANG: PULUHAN NYAWA TERPERANGKAP?

Foto Berita

Tragedi menyelimuti kawasan East Jainta Hills, Meghalaya, India timur laut, setelah ledakan dahsyat mengguncang tambang batu bara ilegal. Insiden yang diduga dipicu dinamit ini telah merenggut nyawa sedikitnya 18 pekerja, sementara 8 lainnya mengalami luka-luka. Otoritas setempat masih terus berupaya mencari korban lain yang diperkirakan terjebak dalam labirin tambang 'lubang tikus' yang sempit dan berbahaya ini.

Kepolisian setempat pada Kamis (waktu setempat) melaporkan telah menarik 18 jenazah dari lokasi kejadian yang terpencil. Proses evakuasi yang sempat dihentikan saat matahari terbenam, rencananya akan dilanjutkan dengan dukungan personel negara bagian dan federal. Manish Kumar, pejabat lokal, menyebut lokasi tambang ini sebagai 'tambang lubang tikus ilegal', yang menggambarkan kondisi sangat berbahaya dengan terowongan sempit tempat para pekerja mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan batu bara.

Vikash Kumar, Kepala Kepolisian Distrik, mengindikasikan bahwa dinamit kemungkinan besar menjadi pemicu ledakan, namun penyelidikan mendalam masih berlangsung. Ia menduga para korban tewas akibat luka bakar parah atau masalah pernapasan karena menghirup gas beracun yang dilepaskan pasca-ledakan. Hingga kini, belum ada estimasi pasti berapa banyak pekerja yang berada di lokasi saat kejadian, sehingga jumlah korban yang terjebak masih misterius.

Tragedi ini langsung menuai sorotan. Conrad Sangma, Kepala Menteri Negara Bagian Meghalaya, menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab akan ditindak tegas dan menyerukan penghentian praktik penambangan ilegal. Senada, Perdana Menteri Narendra Modi menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan mengumumkan paket kompensasi sebesar 200.000 rupee (sekitar $2.216) untuk setiap keluarga yang ditinggalkan.

Tambang batu bara ilegal memang jamak ditemukan di wilayah timur dan timur laut India. Praktik 'rat-hole mining' ini bahkan sudah dilarang di Meghalaya sejak 2014, terutama karena kekhawatiran pencemaran air. Namun, larangan itu sering diabaikan, terutama karena upah yang menggiurkan bagi sebagian pekerja, sekitar $18 hingga $24 per shift harian. Insiden serupa bukan kali pertama terjadi; pada 2018, setidaknya 15 penambang juga tewas terjebak di tambang serupa di Meghalaya. Kondisi ini memperlihatkan betapa besar risiko yang dihadapi para pekerja miskin demi sesuap nasi, sementara regulasi dan keselamatan kerja masih sering diabaikan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook