Kapan derita warga Lebanon Selatan berakhir? Lebih dari setahun pascaperang Israel, puluhan ribu warga sipil masih belum bisa pulang ke rumah mereka yang luluh lantak. Ironisnya, bantuan yang diharapkan dari pemerintah Lebanon maupun kelompok Hezbollah dinilai minim, tak cukup untuk membangun kembali hidup yang hancur. Situasi makin rumit karena gencatan senjata yang seharusnya membawa perdamaian, nyatanya masih diwarnai serangan dan pelanggaran.
Tragedi bermula saat konflik Israel-Lebanon memuncak pada September 2024. Ribuan pager meledak serentak, menewaskan sembilan orang dan melukai 3.000 lainnya, termasuk duta besar Iran untuk Lebanon. Tak lama berselang, serangan Israel di wilayah selatan Lebanon kian intensif, menewaskan hampir 600 orang dalam sehari, menjadikannya hari paling mematikan sejak perang sipil usai tahun 1990. Lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi, meninggalkan desa-desa yang tadinya damai, seperti Haddatha, tempat Ali (nama disamarkan demi keamanan) tinggal. Rumahnya hancur lebur, dan lebih dari setahun berlalu, ia masih belum berani pulang meski ada gencatan senjata.
Gencatan senjata yang disepakati antara Hezbollah dan Israel pada 27 November 2024 sebenarnya diharapkan mengakhiri serangan lintas batas dan intensifikasi Israel yang menewaskan ribuan warga sipil serta menghancurkan infrastruktur. Perjanjian itu mengatur penarikan pasukan Israel dan Hezbollah ke utara Sungai Litani. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Israel dilaporkan tidak pernah berhenti menyerang. Bahkan, pasukannya masih menduduki lima titik di Lebanon selatan dan meratakan beberapa desa selama masa gencatan senjata.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat, hingga Oktober 2025, lebih dari 64.000 orang masih menjadi pengungsi internal di Lebanon. Banyak dari mereka, seperti Ali, enggan kembali karena alasan keamanan. "Selatan tidak aman," ungkap Ali, cemas akan serangan mendadak. Pemerintah Lebanon sendiri mencatat lebih dari 2.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel dalam tiga bulan terakhir tahun 2025 saja, dengan serangan hampir setiap hari di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa.
Situasi ini menciptakan krisis kemanusiaan yang berlarut-larut. Selain trauma psikologis akibat perang, para pengungsi menghadapi kesulitan ekonomi dan hilangnya mata pencarian, terutama bagi mereka yang bergantung pada pertanian. Ketidakpastian keamanan juga menghambat upaya rekonstruksi dan pemulihan, membuat masa depan warga Lebanon Selatan terombang-ambing di tengah konflik yang tak kunjung usai. Minimnya dukungan signifikan dari pemerintah dan kelompok lokal memperparah penderitaan mereka, menyisakan pertanyaan besar: kapan mereka bisa benar-benar kembali membangun kehidupan?