ROMA â Puluhan ribu warga Italia membanjiri ibu kota Roma akhir pekan ini dalam dua demonstrasi besar yang berseberangan soal kebijakan imigrasi. Aksi ini pecah setelah petisi sayap kanan ekstrem yang menuntut deportasi massal imigran berhasil mengumpulkan 50.000 tanda tangan dan resmi akan dibahas di parlemen.
Di satu sisi, ribuan pendukung kelompok neo-fasis Casapound dan partai sayap kanan Liga menggelar pawai anti-imigran di kawasan Prati. Mereka meneriakkan slogan keras, termasuk memberi hormat ala fasis sambil berteriak 'Duce! Duce!'âmerujuk pada diktator Benito Mussolini. Juru bicara Casapound, Luca Marsella, dengan terang-terangan menuntut pengusiran tidak hanya imigran ilegal, tetapi juga imigran legal yang dianggap tidak mau berasimilasi.
Di sisi lain, puluhan ribu warga yang menolak kebijakan rasis ini menggelar aksi tandingan di lokasi terpisah. Pemerintah kota mengerahkan ribuan polisi untuk menjaga kedua kubu agar tidak bentrok fisik.
Petisi kontroversial yang diberi nama 'Remigrasi dan Penaklukan Kembali' ini mendorong wacana ekstrem 'remigrasi'âyang dalam kode keras sayap kanan berarti deportasi massal etnis minoritasâke panggung politik utama Italia. Langkah ini menjadi ujian berat bagi Perdana Menteri Giorgia Meloni. Koalisinya yang beraliran kanan justru terpecah: Partai Liga mendukung pembahasan petisi, sementara partai Meloni sendiri, Brothers of Italy, bersikap lebih hati-hati karena khawatir dikaitkan dengan kelompok ekstremis.
Para kritikus, termasuk partai oposisi dan pakar hukum, menegaskan bahwa rancangan undang-undang ini melanggar konstitusi Italia dan prinsip-prinsip anti-diskriminasi. 'RUU remigrasi ini menggunakan logika eksklusi berdasarkan latar belakang etnis dan budaya yang tidak sesuai dengan konstitusi,' tegas politisi sayap kiri Angelo Bonelli.
Analisis Dampak: Situasi ini menunjukkan betapa tajamnya perpecahan sosial di Italia. Di satu sisi, pemerintah Meloni justru tengah memperluas jalur imigrasi legal dengan rencana multi-tahun untuk menerima ratusan ribu pekerja non-Uni Eropa guna mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor-sektor kunci. Ironisnya, di saat yang sama, wacana deportasi massal justru mendapatkan tempat di parlemen. Ini menandakan bahwa politik identitas dan sentimen anti-pendatang masih menjadi senjata ampuh untuk meraih dukungan, sekaligus ancaman serius bagi hak asasi manusia dan kohesi sosial di Italia.