Dunia kembali dibuat was-was oleh manuver Iran. Citra satelit yang baru-baru ini dirilis menunjukkan, Iran tengah gencar membentengi kompleks militer sensitifnya, terutama di Parchin dan Isfahan, dari kemungkinan serangan udara.
Di Parchin, sekitar 30 km tenggara Tehran, Iran membangun perisai beton raksasa di atas fasilitas baru dan menutupinya dengan tanah. Langkah ini diduga untuk melindungi situs tersebut dari ancaman serangan udara, seperti yang pernah terjadi pada Oktober 2024, di mana Israel disebut-sebut melancarkan serangan dan menyebabkan kerusakan signifikan.
Tak hanya di Parchin, aktivitas serupa juga terdeteksi di kompleks Isfahan, salah satu fasilitas pengayaan uranium Iran. Citra satelit menunjukkan pintu masuk terowongan di sana kini tertimbun sepenuhnya. Di lokasi lain dekat Natanz, Iran juga memperkuat pintu masuk terowongan di bawah gunung, menandakan upaya serius untuk mengamankan infrastruktur vitalnya.
Laporan dari Institute for Science and International Security (ISIS) pada Januari lalu menyebut, Iran tengah membangun "sarkofagus beton" di situs Taleghan 2 di Parchin, yang diperkirakan akan menjadi bunker yang sangat sulit ditembus serangan udara. Pendiri ISIS, David Albright, bahkan menilai ini adalah keuntungan bagi Iran untuk mengulur negosiasi sembari membentengi fasilitas mereka.
Pembangunan benteng-benteng ini berlangsung di tengah memanasnya hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Washington sendiri telah mengerahkan kekuatan militernya di kawasan, sementara Israel terang-terangan menganggap program nuklir Iran sebagai ancaman. Namun, Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan sipil dan membantah keras tuduhan pengembangan senjata atom. Bahkan, intelijen AS dan badan pengawas nuklir PBB tahun lalu tidak menemukan bukti bahwa Iran mengejar senjata nuklir.
Situasi ini jelas menambah ketidakpastian di Timur Tengah. Upaya Iran membentengi diri bisa diartikan sebagai langkah defensif untuk melindungi kedaulatannya, namun di sisi lain, hal ini juga bisa memicu kekhawatiran dan memperbesar potensi konflik regional. Dunia kini menanti, apakah ini pertanda persiapan perang atau sekadar langkah antisipasi dalam ketegangan yang tak kunjung mereda.