Ketegangan di Timur Tengah kian memuncak menyusul rentetan serangan yang dilaporkan dilancarkan Iran terhadap aset militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi menjadi saksi bisu aksi terbaru yang menghebohkan.
Pada Jumat lalu, laporan dari sejumlah media asing, termasuk The Wall Street Journal, menyebutkan rudal dan drone Iran menghantam pangkalan strategis yang juga menjadi markas pasukan AS tersebut. Dampaknya tidak main-main: beberapa pesawat tanker pengisi bahan bakar KC-135 dilaporkan rusak parah. Lebih dari itu, sebuah pesawat radar terbang canggih E-3 Sentry AWACS, yang berfungsi sebagai "mata" dan "telinga" utama AS di udara, ikut jadi sasaran empuk.
Insiden tersebut bukan hanya merusak infrastruktur vital, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Setidaknya 15 tentara Amerika Serikat terluka, dengan lima di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius, seperti dikutip dari laporan The Associated Press. Baik militer AS maupun Arab Saudi hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.
Serangan ini adalah bagian dari serangkaian balasan Iran sejak apa yang disebut sebagai "perang" AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Sebelumnya, Teheran juga dilaporkan menyasar sistem radar, pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), dan drone Reaper milik AS di berbagai pangkalan di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, dan Kuwait. Bahkan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang menampung pasukan AS juga sempat menjadi target.
Para pengamat militer, termasuk mantan pejabat militer AS yang dikutip WSJ, menilai penargetan E-3 Sentry AWACS ini "sangat signifikan". Pesawat ini krusial untuk melacak drone, rudal, dan pesawat lain dari jarak ratusan kilometer, membuatnya menjadi aset intelijen dan komando yang tak tergantikan. Kerusakan pada pesawat ini, ditambah dengan rusaknya tanker KC-135 yang vital untuk operasi pengisian bahan bakar di udara, menunjukkan kemampuan Iran untuk menembus pertahanan dan menyerang aset militer strategis Amerika.
Eskalasi konflik yang telah memasuki bulan kedua ini tentu memicu kekhawatiran serius. Jika laporan ini benar, maka ini menegaskan peningkatan tensi di salah satu wilayah penghasil energi terpenting di dunia. Dampak dari serangan terhadap aset strategis ini bisa sangat luas, berpotensi memicu respons lebih besar dari pihak-pihak yang bertikai dan memengaruhi stabilitas regional secara keseluruhan, termasuk fluktuasi harga energi global.