Ketua Kehormatan Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) Kozo Tashima resmi menantang Gianni Infantino dalam pemilihan presiden FIFA Maret mendatang. Tashima menjadi penantang kedua setelah mantan bek Tottenham, Ramon Vega, yang lebih dulu mendeklarasikan diri. Pria 68 tahun itu mengantongi restu penuh dari JFA dan menegaskan komitmennya membawa nilai integritas serta etika tinggi sepak bola Jepang ke panggung global.
Tashima bukan sosok sembarangan. Ia pernah duduk di Dewan FIFA dan memimpin JFA periode 2016-2024. Dalam pernyataannya, ia menyoroti pentingnya transparansi dan standar moral dalam mengelola organisasi sepak bola dunia. Langkah ini diambil dengan pertimbangan pengalaman panjangnya di birokrasi sepak bola internasional.
Situasi ini membuat posisi Infantino tak sepenuhnya aman. Meski sempat diterpa kritik tajam terkait rencana kontroversial penjualan hak siar Piala Dunia, dukungan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bulan lalu membuatnya masih diunggulkan. Infantino bahkan mengklaim mendapat restu mayoritas asosiasi anggota. Namun, kehadiran Tashima dan Vega setidaknya memaksa pemilihan kali ini berjalan lebih kompetitif. Batas pendaftaran kandidat sendiri ditutup pada 18 November mendatang.
Bagi publik pecinta bola, dinamika ini patut dicermati. Sebab, siapa pun yang memimpin FIFA akan menentukan arah kebijakan turnamen, hak siar, hingga distribusi dana pembinaan ke federasi di seluruh dunia. Munculnya kandidat dari Asia juga memberi harapan representasi kawasan yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan di level tertinggi.