New Delhi, India - Jutaan orang di seluruh India merayakan Dussehra, salah satu festival Hindu paling meriah, dengan menggelar prosesi, doa bersama, dan pembakaran patung raksasa sebagai simbol kemenangan kebaikan atas kejahatan.
Festival ini menandai kemenangan Dewa Rama atas Raja Rawan yang bermuka sepuluh dalam mitologi Hindu. Perayaannya berlangsung meriah di berbagai penjuru negeri dengan tradisi yang berbeda-beda. Di wilayah utara, pertunjukan teater Ramlila digelar selama berhari-hari untuk menceritakan epik Ramayana, lengkap dengan kostum dan tata rias megah para pemainnya.
Puncak acara adalah pembakaran patung raksasa Rawan, adiknya Kumbhakarna, dan putranya Meghnath. Aksi ini disambut sorakan massa yang memadati lapangan dan jalanan. Suasana karnaval terasa dengan hadirnya stan makanan, wahana permainan, dan pertunjukan kecil di sekitar lokasi.
Di wilayah timur seperti Kolkata, perayaan berbarengan dengan Durga Puja. Umat memadati tenda-tenda sementara atau pandal yang dihiasi tema-tema kreatif, kadang mengangkat isu sosial terkini. Patung Dewi Durga yang tengah menikam iblis kerbau Mahishasura menjadi pusat pemujaan.
Bunga marigold atau bunga gemitir jadi simbol penting dalam perayaan ini. Pasar-pasar bunga di Bengaluru dan kota lain dipenuhi pembeli yang ingin menghias rumah dan tempat ibadah. Perayaan Dussehra jatuh pada hari ke-10 setelah Navratri, festival sembilan malam yang dijalani umat Hindu berdasarkan kalender bulan.
Dampak bagi Masyarakat: Perayaan ini tidak hanya jadi momen spiritual, tapi juga penggerak ekonomi lokal. Pedagang bunga, pengrajin patung, hingga pelaku usaha kuliner kebanjiran rezeki. Namun, pembakaran patung raksasa juga memicu perhatian soal polusi udara dan limbah material, terutama di kota-kota besar. Pemerintah setempat biasanya mengerahkan petugas keamanan ekstra untuk mengatur massa dan lalu lintas.