Jakarta, CNN Indonesia โ Serangan Israel ke Lebanon selatan kembali memanas. Kelompok bantuan medis Doctors Without Borders (MSF) menyebut situasi di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan, sudah seperti 'perangkap maut' (death trap).
Sejak Jumat (12/5) tengah malam, Israel meningkatkan serangan ke Nabatieh dan beberapa bagian Lebanon selatan lainnya. Hal ini terjadi menjelang rencana perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss yang membahas kesepakatan gencatan senjata sementara.
Otoritas kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 50 orang tewas dalam gelombang serangan terbaru ini, termasuk seorang tentara. MSF mengatakan mereka kewalahan menangani gelombang korban berjatuhan, termasuk paramedis yang terluka saat menjalankan misi penyelamatan.
โOrang-orang datang dengan cedera kepala parah, pendarahan hebat, luka pecahan peluru, dan butuh amputasi,โ ujar Koordinator Darurat MSF di Lebanon, Pierre Boulet-Desbareau, dalam pernyataannya.
Ia menambahkan, timnya tidak bisa mengevakuasi banyak korban yang masih terjebak di bawah hujan artileri karena risiko terkena tembakan. โWarga sipil dan petugas pertama harus dilindungi, akses tanpa hambatan bagi tim penyelamat sangat dibutuhkan,โ tegasnya.
Militer Israel mengklaim serangan ini sebagai balasan atas serangan Hizbullah yang menewaskan empat tentara Israel. Menariknya, Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan pada Jumat malam bahwa Israel setuju gencatan senjata dengan Hizbullah. Namun faktanya, serangan ke Lebanon selatan terus berlanjut hingga Sabtu.
Lembaga Berita Nasional Lebanon melaporkan, pesawat tempur dan drone Israel menghancurkan bangunan tempat tinggal dan rumah-rumah warga di Nabatieh sepanjang malam hingga Sabtu pagi. Sementara itu, Iran menegaskan kesepakatan damai final hanya bisa tercapai jika Israel dan AS mengakhiri konflik di semua lini, termasuk Lebanon.
Analisis: Eskalasi ini menunjukkan kerapuhan kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan sepihak. Masyarakat sipil kembali menjadi korban utama, sementara akses bantuan kemanusiaan terhambat. Situasi ini bisa memicu krisis kemanusiaan yang lebih parah di Lebanon selatan.